Pesawat Tercanggih F-35 Tak Mampu Melawan Sukhoi SU-35 Full HD





Cinta INDONESIA . .. . Berlangganan Gratis - Subscribe Disini Atau Bisa Langsung Menekan Tombol Youtube Subscribe dan Facebook LIKE Berikut ini...


www.tribunindo.com -Pesawat tempur siluman F-35 Lightning II mengeluarkan biaya Tinggi dengan manfaat terbatas dari F-35 Program’, berdasarkan analisis think tank Bill Perancis dan peneliti Daniel Edgren mengatakan F-35 kemungkinan akan “dikalahkan”oleh pesawat tempur Su-27 seri Flanker. Hal ini juga mendukung pendapat sebelumnya dari pengamat pertahanan bahwa F-35 adalah pesawat yang benar-benar tidak berguna yang akan menjadi sasaran empuk di udara jika berhadapan dengan pesawat musuh.

“Karakteristik kinerja F-35 lebih buruk dibandingkan dengan pesawat tempur Generasi 4 Rusia MiG-29 Fulcrum dan Su-27 Flanker yang telah ada dalam pelayanan angkatan udara di seluruh dunia,” kata laporan itu.

“Ini adalah jenis pesawat siluman F-35 yang kemungkinan besar akan menghadapi pesawat musuh dengan intensitas tinggi di udara . Dibandingkan dengan kedua pesawat tempur Su-27 dan MiG-29, jet F-35 merupakan pesawat yang memiliki beban sayap terlalu rendah (kecuali untuk F-35C), percepatan transonik, dan thrust to weight. Semua varian F-35 juga memiliki kecepatan maksimum secara signifikan Mach 1.6 F-35 lebih rendah dibandingkan dengan Su-27 kecepatan Mach 2.2 dan Mach 2.3 untuk MiG-29. “ Keuntungan dari pesawat ini hanya terletak pada sistem siluman dan avioniknya dibandingkan pesawat Rusia.

Dibangun untuk menjadi pesawat pemburu yang mematikan dan pembunuh masa depan, F-35 sebenarnya juga bisa diartikan sebagai pesawat yang paling akan diburu di dunia. Persoalaannya menjadi rumit ketika sejumlah pihak menganggap F-35 penuh dengan kelemahan. Pesawat ini bahkan masih akan sangat sulit untuk melawan Sukhoi Su-30 Rusia. Pesawat siluman Amerika terbaru dengan biaya US$191 juta per unit ini dianggap penuh dengan cacat desain. Sementara Su-30 telah membuktikan dirinya sebagai pesawat super manuver.

Analisa para ahli, sayap pendek pada F-35 akan mengurangi kemampuan angkat dan manuver pesawat, bentuk pesawat yang bulat membuatnya kurang aerodinamis, kecepatan yang rendah dan mesin yang terlalu panas telah menjadikan pesawat ini mau tidak mau akan sangat sulit menghindar dari radar dan deteksi termal. Dan semua itu hanyalah beberapa kelemahan utama yang akan menjadi kerentanan selama pertempuran udara. Dengan lebih dari 600 Flanker Su-27 dan kemudian berevolusi menjadi Su-30, Su-34 dan Su-35 Super Flanker, pesawat ini telah terbang bersama angkatan udara di hampir seluruh dunia. Sehingga ini bisa menjadi gambaran nasib F-35 nanti. Ke manapun Ligthing II bertarung akan bertemu dengan musuh yang tidak bisa diremehkan tersebut.
Ilustrasi bentuk pesawat F-35 yang tambun dan pendek mirip burung kalkun

Ilustrasi bentuk pesawat F-35 yang tambun dan pendek mirip burung kalkun

Ahli Aerospace di seluruh dunia mulai berubah pikiran bahwa pesawat hasil program pengembangan senjata termahal dalam sejarah Pentagon tersebut akan menjadi sasaran empuk pesawat Flankers.“pesawat ini mirip kalkun,” kata insinyur luar angkasa Pierre Sprey dalam sebuah wawancara dengan televisi Belanda. Sesungguhnya tidak sembarang orang yang memiliki kemampuan menilai sebuah pesawat. Dari sedikit orang yang ada Sprey adalah salah satunya. Dia adalah co-desainer dari pesawat F-16 Fighting Falcon dan A-10 Warthog, dua pesawat paling sukses di Angkatan Udara AS.

Winslow Wheeler T, Director of the US’ Straus Military Reform Project, Centre for Defense information setuju dengan pendapat Frey. “F-35 terlalu berat dan lamban untuk bisa sukses sebagai sebuah jet tempur,” katanya. “Jika kita pernah menghadapi musuh dengan angkatan udara yang tangguh kita akan berada dalam kesulitan besar.”

Sejauh ini AS memang beruntung karena tidak pernah bertempur dengan negara yang memiliki kekuatan udara seimbang. Di Timur Tengah, Amerika menghadapi negara-negara dengan kekuatan udara yang sangat lemah dan benar-benar tak berdaya seperti Irak, Afghanistan dan Libya. Tapi keberuntungan tentu saja bisa habis, Jika suatu saat Amerika harus berhadapan langsung melawan angkatan udara Rusia, Tiongkok atau India maka tidak akan semudah selama ini. Secara khusus, Angkatan Udara India bahkan telah mengalahkan jet generasi keempat Angkatan Udara menggunakan jet generasi ketiga dan keempat.

Bahkan para ahli mengatakan sebenarnya pertempuran udara belum dimulai tetapi Flanker sudah mencetak skor 1-0 atas F-35. Apa saja sebenarnya yang menjadi titik lemah dari F-35 yang menjadikan pesawat ini akan sangat sulit adu tanding dengan Flanker?

DESAIN SILUMAN

Masalah terbesar dengan F-35 adalah bahwa desainer AS terlalu bertumpu pada kemampuan siluman dan jangkauan radar jarak jauh untuk mengkompensasi kurangnya kecepatan dan manuver. Tetapi itupun juga tidak akan berhasil sepenuhnya. Amerika lupa, teknologi radar juga akan berkembang. Radar Rusia sudah akan menjadi lebih baik.

“Kemajuan radar sudah nampak dalam sistem rudal darat ke udara Rusia yang paling canggih, dan ada IRST (infra red scan and track) lanjutan yang digunakan pada jet tempur Rusia yang memperluas deteksi musuh termasuk untuk mencium keberadaan siluman dari jarak jauh. Peningkatan kemampuan penciuman IRST hingga 46km dan mampu membaca pesawat paling siluman sekalipun seperti F-22, ditambah dengan kemampuan rudal jarak jauh (AMRAAM) dan less infrared untuk menghantam pesawat siluman dari jarak 92km bahkan lebih. ”

Pada saat yang sama tidak mungkin hanya ada satu radar dalam perang. “Ada banyak radar,” jelas Sprey. “Dan Anda tidak bisa sembunyi dari semua radar dalam setiap pertempuran. Akan selalu ada radar yang bisa menangkap pesawat karena penempatan posisi yang bervariasi. Radar itu akhirnya akan dapat melihat si siluman ”
Super flanker dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap daripada F-35

Super flanker dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap daripada F-35

LEMAH DALAM SENJATA
Masalah lainnya adalah dengan bentuk keseluruhan pesawat Amerika ini. “Sebagian besar bentuk pesawat yang “halus” karena Anda mencoba untuk mengurangi drag,” kata Sprey. “Tapi di sini karena siluman mereka harus membuatnya sangat bulat dan sangat besar karena pesawat harus membawa senjata di dalam karena jika membawa senjata di luar pesawat bisa ditangkap radar. Akhirnya bentuk pesawat sekarang menjadi besar dan lamban seperti bomber. ”.

Dengan ruang internal senjata yang lebih kecil berarti desainer di Lockheed Martin telah memberi hukuman mati kepada F-35. Pesawat hanya membawa dua bom besar dan empat yang kecil atau maksimal empat rudal udara ke udara atau Air to Air Missile (AAM) luar jangkauan visual atau beyond visual range (BVR).

USAF mengklaim radar canggih F-35 akan melihat pesawat musuh lebih dahulu (sebelum musuh melihat) dan mampu menghancurkannya dengan salah satu rudal dari empat rudal jarak jauh. Tapi sampai saat ini menembak pesawat dalam jarak di luar jangkauan visual masih menjadi mimpi para pilot. Belum pernah terjadi jika kemudian pilot tergantung pada hal ini maka sama saja bunuh diri.

Selama Perang Vietnam USAF begitu kepincut dengan konsep tempur BVR yang untuk kali pertama yang ditawarkan oleh F-4 Phantom. Karena begitu yakin pesawat itu hanya dipersenjatai dengan rudal tanpa kanon. Tapi setelah pilot Angkatan Udara Vietnam berhasil menembak jatuh pesawat tersebut, Amerika kembali memasang kanon di F-4. Bahkan Rusia yang dikenal memiliki lebih banyak rudal BRV pun tetap memasang 8 rudal semacam ini di tubuh Flanker. Alasannya sederhana bahwa dibutuhkan beberapa tembakan pada target yang bergerak cepat untuk bisa menghancurkannya. Hal yang sepertinya diabaikan oleh Amerika.

Secara teori, pilot Amerika akan bermain seperti di “video game” dan menembak pesawat musuh pada jarak 100 km. Dalam prakteknya pertempuran udara adalah seperti pertarungan yang sesungguhnya (bukan seperti di video game). Menurut Departeman Pertahanan Rusia, F-35 sangat mungkin akan menghadapi pertempuran dalam jarak yang pendek dan dalam situasi seperti ini Super Flanker akan menjadi ancaman tidak main-main bagi F-35.

KESIAPAN ARMADA
Menurut filosofi pertempuran udara baru yang didefinisikan oleh USAF Lockheed Martin adalah bahwa satu pesawat bisa melakukan semua hal (multi peran). Dan itu terwujud dalam F-35, hingga pesawat ini nanti akan menggantikan semua jet tempur lainnya dari segala jenis. Dari jet tempur superioritas udara hingga pesawat dukungan serangan darat. Tapi di sinilah masalahnya karena F-35 adalah pesawat udara yang mahal, angkatan udara hanya akan membeli sedikit pesawat saja.
Misalnya, Jepang saat ini memiliki 100 F-15 tetapi akan menggantinya dengan hanya 70 F-35. Sekali lagi, karena F-35 juga akan mahal untuk biaya terbang dan pemeliharaannya, angkatan udara juga akan membatasi jam terbang pilot. Dan ini sudah terjadi karena pemotongan biaya anggaran telah memaksa USAF untuk menghilangkan lebih dari 44.000 jam terbang dari 17 skuadron tempur udara mereka.

Selain itu untuk membuatnya tetap siluman adalah mahal. Pada F-35 sebagian besar biaya pemeliharaannya adalah pada lapisan silumannya. “Ini merupakan hambatan yang ironi untuk pertempuran,” kata Sprey. “Anda sedang didarat selama 50 jam mengutak atik pesawat mencoba untuk membuatnya tetap siluman ketika ternyata tetap tidak mampu bersembunyi dari radar.”

Secara teori adalah kemustahilan menyediakan armada dalam kondisi 100 persen. Rata rata ketersediaan armada USAF hanya sekitar 75 persen dan itu sudah dalam kondisi baik tetapi ketika nanti F-35 datang angkanya pasti akan merosot tajam. Bomber super B2 USAF memiliki tingkat ketersediaan hanya 46,7 persen. Dan pesawat tempur paling mahal Amerika, F-22 memiliki tingkat ketersediaan armada hanya 69 persen. Jadi katakanlah jika angkatan udara Australia hanya memiliki 48 pesawat F-35 dari yang direncanakan 70 maka bagaimana harus melawan China yang memiliki 400 pesawat Flanker. Anda bisa bertaruh Australia tidak akan mampu melakukan pertempuran dengan Tiongkok tanpa didukung kakaknya, Amerika.

Wheeler, yang telah berurusan dengan isu keamanan nasional Amerika selama lebih dari tiga dekade, menjabarkan implikasi bagi angkatan udara Barat yang berencana untuk tetap melantik F-35,“ Nasib pilot akan bertambah buruk karena mereka akan mendapatkan pelatihan yang jauh lebih sedikit, sesuatu yang lebih penting daripada masalah teknis. Akan ada jumlah pilot yang jauh lebih sedikit sebagai konsekuensi jumlah pesawat yang sedikit dan pada dasarnya anda akan memiliki pesawat yang hanya jadi barang pameran yang tidak bisa berbuat apa-apa.” Jadi sepertinya pertempuran udara belum dimulai tetapi Flanker sudah mencetak skor 1-0 atas F-35.

Sumber : Russia and India Report / Jejak Tapak

Pengirim : Pecinta Wanita JKGR biro Iepara
iklan