Pesawat F-35 Si Monster Mematikan Untuk Su-35 Dan T-50 PAK FA





Cinta INDONESIA . .. . Berlangganan Gratis - Subscribe Disini Atau Bisa Langsung Menekan Tombol Youtube Subscribe dan Facebook LIKE Berikut ini...



Angkatan Udara Amerika Serikat mengatakan varian terbaru dari pesawat tempur F-35 Joint Strike Fighter siap digunakan dalam perang. Varian terbaru bernama the F-35A Lightning itu telah mencapai tahapan IOC (Initial Operating Capability) atau kemampuan operasi awal, yang artinya tahap pengembangan sudah dilewati dan telah lulus uji kelayakan untuk dipakai dalam misi peperangan.

"Dengan bangga saya umumkan sistem persenjataan baru yang ampuh ini telah mencapai tahap initial combat capability," kata Jenderal Hawk Carlisle, Komandan Komando Peperangan Udara, Selasa (2/8) waktu setempat.

"F-35A akan menjadi pesawat paling dominan dalam armada kami karena bisa menuju ke tempat yang tidak bisa dijangkau pesawat kami sebelumnya, dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan para komandan kami dalam pertempuran modern."

Carlisle memuji kinerja skuadron pesawat dimaksud dalam uji coba, termasuk kemampuannya untuk memberi dukungan udara jarak dekat, menghancurkan pertahanan udara pihak lawan, dan melakukan operasi menggunakan senjata dan sistem misi yang telah diprogram.

"Pernyataan initial operational capability menandai tonggak penting karena Angkatan Udara (Amerika) akan mengoperasikan armada F-35 terbesar di dunia dengan lebih dari 1.700 pesawat," kata pejabat eksekutif program pengembangan F-35, Let. Jend. Chris Bogdan.

"F-35 akan menjadi tulang punggung dalam superioritas perang udara selama puluhan tahun ke depan dan pesawat tempur ini bisa lebih dulu mendeteksi musuh-musuhnya dan mengambil tindakan yang menentukan."

Proyek US$ 400 Miliar
Tahapan baru ini menandai tonggak besar dalam proyek senilai US$ 400 miliar tersebut.

Pesawat F-35 yang bermesin tunggal disebut-sebut sebagai masa depan penerbangan militer, mematikan, lincah dan bisa dipakai oleh ketiga angkatan, ditambah dengan kemampuannya menghindari radar, kecepatan supersonik, dan teknologi sensor terdepan, menurut pembuatnya, Lockheed Martin.

Namun proyek Joint Strike Fighter ini juga mengundang kritikan tajam setelah beberapa kali terjadi cacat produk baik hardware maupun software yang mengakibatkan penundaan lebih dari tiga tahun dan membuat anggaran membengkak sekitar US$ 200 miliar dari estimasi awal.
iklan