Loyalitas Kerja Polisi, Bertugas Hingga Tewas

Jakarta, CNN Indonesia -- "Sebagai prajurit Bhayangkara, kami harus selalu siap menghadapi situasi seperti apapun. Tidak ada kata mundur, harus siap dan menjalankan tugas secara profesional."




Demikian diungkapkan salah satu personel kepolisian yang menjadi korban tindak kekerasan kelompok suporter klub sepak bola Persija Jakarta The Jakmania Jumat pekan lalu, Inspektur Satu Sirajudin, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (29/6).

Sebagai personel polisi yang ditugaskan sebagai Kepala Unit Provost Polsek Tanah Abang, Sirajudin dapat dikatakan sangat loyal dalam menjalankan tugasnya. Sirajudin selalu berusaha melindungi dan memastikan keselamatan atasan dan bawahannya.




Saat insiden kerusuhan terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (24/6), Sirajudin berusaha sekuat tenaga mengamankan Kepala Polsek Tanah Abang yang merupakan atasannya. Meski akhirnya, ia dipukul oknum The Jakmania di bagian kepala hingga jatuh pingsan.

Setelah sadar dan dilarikan ke Rumah Sakit Mintoharjo, Jakarta Pusat, ia kembali mengingat kondisi keselamatan Kapolsek Tanah Abang. Sirajudin langsung menghubungi anak buahnya untuk memastikan hal tersebut.

Loyalitas Sirajudin dalam menjalankan tugas kembali terbukti setelah pria berusia 51 tahun itu berhasil melawan rasa trauma akan insiden pemukulan yang dilakukan oknum The Jakmania.

Sirajudin mengaku rasa trauma sempat terpendam dalam sanubarinya selama tiga hari. Ia khawatir akan mendapat perlakuan serupa bila kelak kembali ditugaskan menjaga acara sepak bola.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut wajar sebagai manusia biasa. Saat bercerita, dia pun mengaku kecewa dengan tindakan brutal oknum The Jakmania, saat Persija Jakarta bertemu Sriwijaya FC pada Jumat lalu

Namun Sirajudin menolak memendam rasa trauma itu terlalu lama. Ia tidak ingin larut dalam rasa takut yang tidak boleh dimiliki oleh seorang prajurit Bhayangkara.

"Saya harus bertugas secara profesional," ucapnya.

Sirajudin kini masih beristirahat dari aktivitas kedinasannya. Ia telah menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur, untuk mengetahui dampak pukulan yang diterimanya dari oknum The Jakmania.

Selain Sirajudin, lima personel kepolisian yang menjadi korban aksi perbuatan onar The Jakmania adalah dua anggota Brigadir Mobil Polda Metro Jaya yakni Brigadir Hanafi dan Brigadir Supriadi, serta tiga anggota Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya yaitu Aiptu Muhtadi, Brigadir Wawan, dan Bripda Ibanio.

Di antara mereka, kondisi Brigadir Hanafi yang paling mengkhawatirkan. Ia harus kehilangan mata sebelah kiri lantaran syarafnya putus setelah dikeroyok suporter klub sepak bola Persija.

Polisi Gugur dalam Tugas

Memilih profesi sebagai polisi memang mengemban tugas negara yang berat dan harus siap mempertaruhkan jiwa raga. Di luar cerita enam polisi yang terluka karena dikeroyok, ada banyak kisah polisi kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas.

Data dari Humas Polda Metro Jaya menyebut, jumlah personel kepolisian yang gugur saat melaksanakan tugas kedinasan sejak 2011 hingga Mei 2016 sebanyak tujuh orang. Mayoritas korban ditembak saat hendak menangkap pelaku tindak kriminal.

Pada awal Juni 2011, seorang personel Polda Metro Jaya meninggal dunia setelah ditembak saat melaksanakan patroli di kawasan Pondok Gede, Bekasi. Di awal Agustus 2013, anggota Polres Metro Jakarta Selatan meninggal dunia setelah ditembak orang tidak dikenal saat berjaga di Pos Pengamanan Terminal Lebak Bulus.

Insiden serupa kembali terjadi seminggu berselang, dua personel Polres Kota Tangerang meninggal dunia setelah ditembak orang tidak dikenal saat hendak kembali ke kantornya usai melaksanakan pembinaan keamanan dan keteriban masyarakat di Kelurahan Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan.

Lanjut di pertengahan Maret 2014, seorang personel Polda Metro Jaya meninggal dunia usai ditembak oleh anak buahnya di ruang kerjanya.

Dua peristiwa lainnya terjadi tahun 2016. Pada pertengahan Januari silam, seorang anggota dari Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat meninggal dunia saat hendak menangkap pengedar narkotika dan obat terlarang di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Ia diserbu dan dianiaya oleh massa. Sebulan berselang, seorang anggota Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat Polda Metro Jaya ditembak oleh bandar narkoba di daerah Jakarta Utara.

Gugur saat bertugas tidak otomatis memberikan para polisi tersebut penghargaan. Menurut penjelasan Humas Polda Metro Jaya, urusan pemberian kenaikan pangkat atau anumerta kepada polisi yang telah gugur saat menjalankan tugasnya tergantung keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Keputusan itu dikeluarkan setelah menimbang usulan yang disampaikan oleh masing-masing kesatuan tempat polisi tersebut bernaung.

Sementara itu, Indonesia Police Watch  (IPW) mencatat, sepanjang tahun 2015, sebanyak 18 anggota Polri tewas dalam tugas dan sebanyak 74 lainnya luka-luka. Data tersebut dihimpun dari seluruh Indonesia.

Sejumlah daerah disebut IPW sangat rawab bagi polisi yaitu Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, yang pada 2015 terjadi masing-masing empat peristiwa. Disusul Sulawesi Tengah dan Sumatra Utara tiga peristiwa.

Selain itu, di Papua, Lampung, Sumatra Selatan, Jawa Timur, dan Gorontalo masing-masing dua peristiwa. Sementara di Jawa Tengah, Yogyakarta, Maluku, dan Nusa Tenggara Barat masing-masing terjadi satu peristiwa.

Organisasi yang dipimpin oleh Neta S Pane itu juga memiliki catatan penyerangan terhadap kantor dan fasilitas Polri. Tahun 2015, Tak ada 22 kantor polisi dan fasilitas Polri lainnya yang diserang, dirusak, serta dibakar massa.

Pada 27 Desember 2015 malam, Polsek Sinak, Puncak, Papua, diserang dengan tembakan. Akibat peristiwa tersebut, tiga polisi tewas, satu luka, dan tujuh senjata dibawa kabur pelaku. Tahun 2015 juga, ada 18 peristiwa penyerangan dan pembakaran yang menyebabkan 21 fasilitas Polri rusak yakni 10 pos polisi, 5 polsek, satu polres, tiga rumah, dua mobil, dan satu sepeda motor polisi. (rdk)
iklan