Serunya Jadi Dokter Militer

KESERUAN Magdalena Purnama Soeprajogo menjalani dua profesi sekaligus sungguh unik. Banyak perempuan berbisnis atau berniaga sambil bekerja, tapi sedikit yang memilih menjadi dokter dan terjun di dunia militer. Makin sibuk, perempuan cantik berpangkat Lettu Ckm (K) ini juga berstatus istri dan ibu seorang anak.
 Perempuan berkulit putih ini tak hanya dituntut bertugas menyembuhkan pasien, namun juga harus berlatih fisik.



Magda, sapaa akrabnya, juga sedang sibuk-sibuknya mengurus Gabrielle Monica. Anak perempuannya yang berusia 7,5 bulan yang sedang asyik belajar berdiri. Dia pun meluangkan waktu untuk pulang sebentar dan menyusui buah hatinya. “Sampai sekarang masih pompa air susu ibu. Kadang saya juga membawa anak ke tempat kerja agar saya bisa menyusuinya,” tuturnya kepada Kaltim Post diwawancarai di sela kesibukannya pada Kamis (9/6) lalu.
 Suami Magda, Heri Andy Nova Sirait yang juga tentara sedang menjalankan tugas di Papua. Diakuinya, komunikasi di antara keduanya pun tak bisa dilakukan secara intens. Sebab, suaminya tidak selalu berada di daerah yang bisa ada sinyal jaringan seluler.


 “Ibaratnya memang saya harus jadi wonder woman karena mengurus rumah, mengurus anak, dan pastinya mengurus pekerjaan. Semua dirasakan enjoy saja biar tidak jadi beban. Saya bersyukur karena ada ibu saya yang menemani saya di sini,” ungkap perempuan kelahiran 19 Oktober 1985 itu.
 Dengan sederet kesibukan itu, anak dari pasangan Eddy Hartono Soeprajogo dan Lily Megawati ini malah merasa semakin tertarik dengan profesi dokter militer. Kata Magda, ada banyak hal yang bisa didapatkannya dibanding menjadi dokter umum saja. Terutama soal latihan fisik.
Setiap minggu, dia punya jadwal latihan fisik. Mulai dari lari, renang ala militer, dan latihan menembak. “Mungkin dokter biasa tidak merasakan kegiatan berbau militer ini. Kalau kami memang wajib latihan fisik sebagai bentuk pemeliharaan fisik. Kami juga bakti sosial hingga ke tempat terpencil. Naik helikopter ke berbagai perbatasan. Menurut saya, semua itu seru,” sebutnya.
 Magda memulai kariernya sebagai dokter militer mulai 2011 lalu. Dia bertugas di Rumah Sakit Tentara (RST) dr R Hardjanto, Balikpapan. Perempuan asal Surabaya tersebut pun menetap di Kota Minyak sementara keluarga besarnya berada di Bekasi. Dia berani menjadi tentara karena termotivasi Adolf Setiabudi Soeprajogo, kakaknya yang terlebih dahulu menjadi TNI.
 Sekitar 2010, Magda yang baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta memberanikan diri mengikuti tes penerimaan TNI. Lewat jalur pendaftaran Perwira Prajurit Karier (PaPK), ia berhasil lolos dan langsung menjalani pelatihan TNI. “Saya sempat dilatih secara militer selama 7 bulan hingga akhirnya mendapatkan penempatan,” terangnya.
 Dalam kesehariannya, Magda bertugas sebagai dokter umum di bagian Medical Check Up (MCU). Di sana, anak bungsu dari dua bersaudara itu memeriksa kesehatan para personel militer. Baik mereka yang akan berangkat untuk menjalani pendidikan, naik pangkat, Samapta, dan sebagainya.
 Tak mudah, menurut Magda, kurang lebih lima tahun terakhir dia harus mengakui lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. “Namanya militer, tidak ada waktu libur. Meskipun sebenarnya ada libur Sabtu dan Minggu. Tetap saja jika sewaktu-waktu ada panggilan bekerja, saya harus siap turun,” kata perempuan berusia 31 tahun tersebut.
 Mendadak memeriksa pasien saat menikmati libur bukan hal langka. “Semua tugas harus dilewatinya dengan ikhlas,” tegasnya. Sebab, Magda meyakini, profesinya menjadi dokter militer telah menjadi jalan hidupnya.
 Satu-satunya kendala yang dirasakan Magda saat ini adalah kesulitan membagi waktu dengan keluarga kecilnya. Apalagi tempat kerja jauh dari rumah. “Kalau masih bujang dulu bolak-balik saja karena masih tinggal di mes, dekat sekali dengan rumah sakit,” ujarnya. (*/gel/her/k15) kaltim.prokal.co
iklan