Peraih Penghargaan Maarif Institute Sebut Militer Terlibat dalam Konflik Ambon

JAKARTA, KOMPAS.com - Joseph Matheus Rudolf Fofid atau yang kerap disapa Rudi meraih salah satu penghargaan dari Maarif Institute atas perjuangannya mengajak masyarakat bangkit pasca konflik di Ambon.


Ia melihat langsung yang sebenarnya terjadi di sana dan konflik pemicunya. Menurut dia, sejumlah oknum tentara terang-terangan mendapat peran dalam konflik tersebut.
"TNI terlibat, tapi tidak ada bukti karena sudah pada tewas. Saya bersedia jadi saksi keterlibatan militer," ujar Rudi saat ditemui di Jakarta, Minggu (12/6/2016).
Menurut dia, keterlibatan tentara dalam konflik tersebut bukan sebagai institusi, melainkan oknum "nakal" yang mencoba memecah belah.Tentara ini berpihak pada satu kelompok, sementara juga berdiri di kelompok lain untuk memecah belah kedua kubu yang bersitegang. 
"Tentara yang bermain di satu kelomlok jadi pahlwan di situ. Sementara juga bermain di sebelah sehingga konflik tetap terpelihara," kata Rudi.
"Sampai hari ini, siapa terliibat konflik Ambon tidak terungkap. Kita bisa bikin konflik baru di masa depan," lanjut dia.
Lantas, apa yang dilakukan Rudi untuk memulihkan situasi pasca konflik? Berpuisi.
Melalui kelompok bernama Bengkel Sastra Maluku, ia mengumpulkan anak-anak muda, dari semua etnis dan agama, untuk menumpahkan kreasi mereka melalui seni. 
Menurut Rudi, bahkan di situasi yang paling sulit pun puisi bisa memecahkan tembok penghalang.
"Orang sudah mau muntah dengar kata damai. Dengan puisi, ada perjumpaan. Orang Islam dan Kristen berjumpa sehingga ada rekonsiliasi," kata dia.
Saat terjadi konflik antarwarga di desa Mamala dan desa Morela pada 2014, Rudi fasilitasi anak-anak muda di sana untuk bertemu dan menggelar kegiatan seni bersama untuk perdamaian. Tak kurang dari 500 orang hadir dalam acara itu.
iklan