Negara-negara Eropa yang Diprediksi Membuntuti Inggris

JakartaCNN Indonesia -- Keputusan rakyat Inggris untuk keluar dari Uni Eropa menggaung di seluruh benua biru tersebut. Dikhawatirkan, langkah Inggris ini menjadi preseden bagi negara-negara anggota Uni Eropa lainnya.



Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, dikutip dari Washington Post, telah memperingatkan bahwa langkah Inggris akan memiliki dampak yang buruk terhadap "peradaban politik barat."

Isu Uni Eropa terpecah belah yang dimulai dari referendum Inggris memang jauh dari kenyataan. Namun, yang terjadi di Inggris jadi cerminan keresahan warga negara Eropa lainnya. Bisa jadi Brexit adalah momentum bagi mereka untuk "bercerai dengan Uni Eropa".



Berikut adalah negara-negara yang diprediksi akan mengikuti jejak Inggris:

Swedia

Swedia dan Inggris memiliki pandangan yang sama soal politik Uni Eropa. Salah satunya, kedua negara ini menolak menggunakan euro sebagai mata uang.

Selain itu, kelompok sayap kanan Swedia mulai berkembang, seperti halnya partai UKIP di Inggris yang menggagas referendum Brexit.

Denmark

Desember tahun lalu Denmark menggelar referendum yang menghasilkan pembatasan kekuasaan Uni Eropa di negara itu. 

Kebanyakan warga Denmark khawatir kebijakan imigrasi Eropa akan memicu gelombang pengungsi ke negara kecil mereka dan mengancam sistem kesejahteraan masyarakat. 
Selain itu, Denmark bergantung pada Inggris dalam berbagai negosiasi di Uni Eropa. 

"Tanpa Inggris, Denmark tidak punya lokomotif untuk memajukan kepentingan rakyatnya," kata pengamat politik Marlene Wind dari University of Copenhagen.



Yunani

Masalah utang dan krisis ekonomi Yunani memang seakan hilang dari pemberitaan, namun usai Brexit perkara ini diprediksi kembali mencuat.

Athena khawatir keluarnya Inggris dari Uni Eropa melemahkan nilai mata uang Euro yang semakin memperparah krisis di Yunani. 

Namun yang ditakutkan Yunani bukan referendum anti-Uni Eropa oleh partai-partai sayap kanan, tapi dorongan Uni Eropa untuk keluar agar tidak menjadi beban bagi negara-negara lainnya.

Belanda

Politisi pemimpin kubu sayap kanan Belanda Geert Wilders mendukung Brexit dan berharap referendum serupa bisa digelar di negaranya.

"Jika ingin selamat sebagai sebuah negara, kita harus menghentikan imigrasi dan Islamisasi. Kita tidak bisa melakukannya di dalam Uni Eropa," kata Wilders.

Perancis

Perancis adalah negara Eropa yang warganya paling banyak ragu terhadap Uni Eropa, sebanyak 61 persen dalam survei terbaru.

Selain Jerman, Perancis adalah negara penggerak Eropa. Namun pemerintah Paris mengalami banyak masalah, termasuk ekonomi yang melemah dan ancaman terorisme. Beberapa orang menyalahkan hal ini kepada Uni Eropa.

Masalah ini bisa digunakan oleh partai sayap kanan, National Front yang digawangi Marine Le Pen, politisi Paris yang mendukung Brexit, untuk mengobarkan isu referendum.(den)
iklan