Kunjungi AS, Putra Raja Saudi Khawatir Timur Tengah Jadi Sekutu Rusia

WASHINGTON - Putra Raja Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengunjungi Amerika Serikat (AS) dengan mengusung beberapa misi. Salah satunya, dia mengkhawatirkan negara-negara Timur Tengah beralih menjadi sekutu Rusia.



Putra Raja Salman bin Abdulaziz yang menjabat sebagai Deputi Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Arab Saudi itu sudah melakukan pertemuan dengan para anggota parlemen AS pada hari Rabu waktu Washington. Pangeran Mohammed dijadwalkan bertemu Presiden Barack Obama pada hari Jumat.

Kunjungan Pangeran Mohammed juga betujuan untuk meredam ketegangan antara Washington dan Riyadh menyusul langkah Senat AS yang meloloskan RUU yang memungkinkan para keluarga korban serangan 9/11 menggugat Pemerintah Saudi.

Selama ini, Saudi dianggap terlibat dalam serangan 11 September 2001 terhadap menara kembar WTC, meski CIA sudah membantahnya. Gedung Putih juga telah memveto RUU pemicu ketegangan Saudi dan AS itu.

Pangeran terkuat Saudi itu juga mempromosikan kebijakan Riyadh yang mengakhiri ketergangantunya pada minyak pada tahun 2030.

”Saya tahu bahwa ada tantangan budaya yang luar biasa yang harus dia atasi, tapi kalau 50 persen dia berhasil, itu akan menjadi sesuatu," kata Senator Partai Republik Bob Corker, yang memimpin komite Hubungan Luar Negeri.

Pangeran Mohammed sudah meluncurkan “Visi 2030” yang salah satunya berisi rencana Saudi mengurangi subsidi minyak.

”Ini merupakan visi yang cukup menarik. Itu presentasi yang rinci dan menarik dari visi ekonomi, dan kemudian bagaimana bisa diterjemahkan ke dalam stabilitas regional," kata Senator Chris Coons, anggota Komite Hubungan Luar Negeri dari Partai Demokrat.

Kunjungan Pangeran Mohammed, diperkirakan berlangsung lebih dari 10 hari. Dia juga dijadwalkan mengunjungi California dan New York. Mohammed baru berusia 30 tahun namun sudah diangkat menjadi Deputi Putra Mahkota dan Menteri Pertahanan Saudi.

Corker mengatakan, bahwa Pangeran Mohammed mengangkat kekhawatiran atas “sikap terbuka”AS terhadap ke Iran dan Rusia yang justru meningkatkan peran kedua negara itu di Timur Tengah.

”Dia melakukan pekerjaan yang baik, meletakkan beberapa komplikasi yang muncul, yang relatif terhadap hubungan kita dengan Iran dan fakta bahwa orang-orang di wilayah ini beralih ke Rusia sebagai sekutu kedua,” ujar Corker, seperti dikutip Reuters, Kamis (16/6/2016).


(massindonews
iklan