Kekerasan Rasial Merebak di Inggris, Sadiq Khan dan PM Cameron Bersuara Lantang

LONDON, KOMPAS.com - Serangkaian ancaman dan kekerasan verbal untuk kaum imigran dan minoritas di Inggris muncul ke permukaan. Hal itu terjadi hanya beberapa hari setelah referendum memutuskan negara itu keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Wali Kota London Sadiq Khan pun bersuara lantang dan langsung mendesak aparat kepolisian untuk memberikan perlindungan dan meningkatkan kewaspadaan atas aksi kekerasan semacam itu.
Seperti dikutip laman USA Today, Khan berjanji untuk tidak memberikan toleransi terhadap aksi-aksi yang bisa menyulut pertikaian lebih besar tersebut. 
"Saya mengajak seluruh warga London untuk bersatu dan berjuang bersama di kota yang luar biasa ini. Selama saya menjadi Wali Kota, mencegah aksi kebencian di kota ini menjadi prioritas saya," tegas dia dalam pernyataan tertulisnya, Senin (27/6/2016). 


Khan pun mengimbau kepada warga lainnya, untuk tidak mengecam pilihan dari 1,5 juta warga London untuk keluar dari Uni Eropa. 
"Ketika saya dan jutaan orang lain tak setuju dengan hasil ini, atas berbagai dasar dan alasan, namun hal itu tidak boleh dijadikan justifikasi untuk melakukan perbuatan yang irasional," kata dia.
"Kita harus menghormati pilihan mereka dan bekerja bersama untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi London," ungkap Khan lagi.  

Sebelumnya, Kedutaan Polandia di London juga mengeluarkan pernyataan berisi kekhawatiran dan keterkejutan atas laporan tentang munculnya aksi kekerasan irasional di London. 
Pusat komunitas warga Polandia di barat Kota London diserang dengan aksi corat-coret bernada rasial. Sejumlah warga asal Polandia pun menerima berisi pesan pengusiran dari Inggris. Kabar itu dilansir the Evening Standard.

Adam Andrzejko, seorang reporter dari the Polish Nasze Strony, yang sedang melakukan kerja jurnalistiknya di Huntington, menyebut hal itu sebagai sebuah pengalaman yang menyedihkan yang menjadi dampak dari "Brexit".
Sementara itu, Perdana Menteri David Cameron pun mengecam keras aksis rasial yang terjadi di Inggris itu. Senada dengan Khan, dia pun menegaskan, tak akan ada toleransi bagi mereka yang melakukan aksi semacam itu. 
"Mari kita ingat lagi, orang-orang itu datang ke sini untuk memberikan kontribusi yang luar biasa bagi negara kita," ungkap Cameron dalam pernyataan tertulis yang dilansir the Scotland Herald.
"Kami tentu tak akan mendukung aksi penyebaran kebencian macam itu, dan kita semua harus membuang hal semacam itu jauh-jauh," tambah dia.  

Diskusi tentang ancaman yang merebak di Inggris pun mencuat melalui media sosial. Banyak warga pendatang dan kaum minoritas yang mengaku mendapatkan pelecehan verbal, bahkan hingga pengancaman. 
Mantan calon anggota parleman dari partai konservatif Shazia Awan, seperti dilansir BBC, mendapat sebuah respons melalui akun Twitter-nya yang bernama pengusiran. Perempuan itu diminta berkemas dan meninggalkan Inggris. 
"Slogan 'Vote Leave, Take Control' mungkin kini telah menjadi 'Vote Leave empower racism'. Menyedihkan, tapi memang inilah yang terjadi," ungkap Awam dalam akung Twitternya, Senin kemarin. 
iklan