Kawasan Penyanderaan 7 WNI Dikepung Ribuan Tentara Filipina

JakartaCNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryaducu mengatakan, sekira tujuh ribu tentara Filipina telah mengepung kawasan disanderanya tujuh warga negara Indonesia (WNI) oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf.



Tujuh WNI ini merupakan awak kapal tunda Charles 001 dan kapal tongkang Robby 152 yang diculik awal pekan lalu saat mengangkut pengangkut batu bara di Laut Sulu Filipina Selatan.

"Dari selatan, pulau itu dikepung 6-7 ribu pasukan. Mereka sudah melakukan operasi. Harapan kami agar sandera tetap selamat," kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/6).

Dia berkata, aparat TNI saat ini masih bersedia sekaligus memonitor operasi pasukan Filipina meski Pemerintah Filipina setuju memberikan izin kepada Tentara Nasional Indonesia untuk masuk ke daerah teritorial darat dan laut Filipina.



Namun, TNI baru dapat menggunakan izin tersebut jika pembebasan sandera tidak dapat dilakukan dengan jalur nonmiliter. Dengan demikian Indonesia hanya akan menunggu perkembangan Filipina.

"Kalau tambah-tambah kacau lagi, kan belum terkoordinasi. Laut sudah selesai, tinggal latihan saja bagaimana serah terima," kata dia.

Ryamizard sebelumnya menjelaskan, secara teknis nantinya semua kapal Indonesia yang masuk ke Filipina harus melapor kepada Gugus Tempur Laut Koarmatim.

Berbeda dengan sebelumnya dimana tentara Indonesia tidak bisa memasuki wilayah Indonesia. Namun, Indonesia tetap mempersiapkan jalur darat apabila nantinya jalur laut yang ditempuh pasukan Filipina tak berhasil.

Perkembangan terbaru nantinya dilaporkan bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kepada Presiden Joko Widodo pada pukul 12.30 WIB.

Penyanderaan ini merupakan kali ketiga dalam enam bulan terakhir. Penyanderaan kali ini dilakukan dua tahap. Pertama dilakukan terhadap tiga anak buah kapal (ABK) yakni Fery Arifin (nahkoda), Muhammad Mahbrur Dahri dan Edy Suryono (Masinis II).

Satu jam kemudian, terjadi penyanderaan kedua terhadap empat ABK lainnya oleh kelompok berbeda, yaitu Ismail, Robin Piter, Muhammad Nasir, dan Muhammad Sofyan.(obs)
iklan