Jerman Pimpin Latihan Perang NATO di Dekat Rusia Tuai Kecaman

BERLIN - Langkah Jerman untuk memimpin latihan perang NATO di dekat perbatasan Rusia membuat Pemerintah Kanselir Angela Merkel dikecam. Alasannya, langkah itu bisa memicu Perang Dingin baru atau bahkan lebih buruk.



Kecaman muncul dari mantan kanselir Jerman, Gerhard Schroeder. Menurutnya, memimpin latihan perang NATO di dekat Rusia adalah “kesalahan serius”.

Latihan perang NATO bertajuk “Anaconda-2016” yang dipimpin Jerman itu berlangsung hanya beberapa hari setelah ulang tahun ke-75 invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada Juni 1941.

Manuver besar-besaran NATO ini berpusat di Polandia dengan melibatkan lebih dari 30 ribu tentara. Latihan perang ini dianggap Rusia sebagai provokasi terbesar sejak Perang Dunia II.

Schroeder mengaku prihatin melihat pemerintah Merkel ikut-ikutan dalam fantasi Perang Dingin baru.
”Secara keseluruhan, Uni Eropa membutuhkan Rusia dan Turki dalam hal kebijakan keamanan," kata Schroeder yang mengecam penumpukan militer secara besar-besaran di sepanjang perbatasan Rusia pada peringatan invasi Nazi, seperti dikutip Sputniknews, Senin (13/6/2016).

Pemerintah Rusia telah merespon NATO dengan mengembangkan Yu-74 kendaraan militer yang bisa bermanuver dengan kecepatan hipersonik. Kendaran ini, menurut para analis militer, memiliki kapasitas untuk menembus sistem pertahanan rudal dan mampu memukul mundur ancaman AS dan NATO dari wilayah Batik.

Kremlin hingga kini tetap menentang penumpukan kekuatan militer NATO secara besar-besaran di dekat Rusia. Menurut Kremlin tidak seharusnya Amerika Serikat (AS) dan NATO melakukan provokasi dengan dipimpin oleh Jerman.


(massindonews
iklan