China Diduga Seret Indonesia dalam Konflik Laut China Selatan

JAKARTA - China diduga mencoba menyeret Indonesia dalam konflik Laut China Selatan setelah Beijing menyalahkan Jakarta dalam insiden di Natuna.



Dugaan itu disampaikan mantan duta besar PBB yang juga penasihat senior menteri Indonesia untuk urusan maritim, Hasjim Djalal.

Hasjim mengaku prihatin dengan insiden di Natuna, di mana kapal perang Indonesia menembaki kapal nelayan China yang diduga mencuri ikan di perairan Indonesia tersebut. Sikap tegas Angkatan Laut Indonesia ini diprotes keras China.

Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri-nya bahkan menyalahkan Indonesia. Indonesia dituduh melanggar hukum internasional dan menyalahgunakan kekuatan militer.

Hasjim menyebut insiden baru-baru ini di Natuna menunjukkan upaya China untuk “menyudutkan” Indonesia.

”China yang dalam sengketa dengan Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei tampaknya bahwa China mungkin mencoba untuk menyeret Indonesia ke dalam sengketa ini,” katanya pada hari Senin.

Dalam situasi yang sedang memanas tersebut, Amerika Serikat (AS) mengirim dua kapal induk bertenaga nuklir untuk patroli di Laut China Selatan. 


Dua kapal induk AS tersebut adalah USS John C. Stennis (CVN 74) dan USS Ronald Reagan (CVN 76).


Kapal perang China telah muncul membayangi kedua kapal induk AS. Tidak ada insiden berbahaya dengan kapal-kapal dari kedua negara tersebut.

Bergabungnya dua kapal induk AS di Laut China Selatan memungkinkan Washington melakukan operasi penerbangan ganda di perairan internasional.

Komandan operator kapal USS Ronald Reagen, Laksamana D. Alexander, mengatakan kehadiran kedua kapal induk menunjukkan kemampuan AS untuk beroperasi di daerah yang sama dan pada waktu yang sama.

”Kami harus mengambil keuntungan dari kesempatan ini untuk berlatih teknikwarfighting yang diperlukan untuk menang dalam operasi angkatan laut modern,” kata Alexander seperti dikutip news.com.au, Selasa (21/6/2016).


(massindonews
iklan