Berpuasa dalam Balutan Seragam Militer Jerman

BERLIN, KOMPAS.com - Ramadhan di Jerman juga dijalani pada anggota angkatan bersenjata yang memeluk agama Islam.

Menjalani puasa yang panjang bagi para serdadu itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, mereka harus tetap menjaga kondisi dan konsentrasi dalam tugas mereka.

Salah seorang prajurit Jerman yang menjalani ibadah puasa adalah Chaouki Aakil yang bertanggung jawab atas masalah logistik dan transportasi militer.

Tugas Chaouki ini sangat berat karena menyangkut keselamatan para personel militer Jerman, sehingga membutuhkan konsentrasi tinggi.




Chaouki mengakui, bulan Ramadhan yang jatuh di musim panas seperti tahun ini, memberikan tantangan yang berat bagi para serdadu Jerman beragama Islam.

Dia kemudian mengenang tugasnya di Afganistan di mana dia menghadapi tantangan fisik dan psikis yang sangat berat.

Selain itu, dia juga dituntut mampu menyesuaikan diri dengan budaya lokal yang sangat berbeda dengan kebiasaan hidupnya di Jerman. Semua tantangan itu semakin bertambah di saat dia harus menjalankan ibadah puasa.

Selain harus mengatasi tantangan fisik dan psikis, di garis depan Chaouki tetap harus mampu berpikir jernih untuk mengambil keputusan.

Michael Faust, dokter di pusat kesehatan Universitas Koln, mengatakan, sebenarnya berpuasa dalam situasi ekstrem, khususnya bagi tentara, sebenarnya bisa memengaruhi kesehatan.

"Dalam misi panjang, tentara perlu konsentrasi tinggi. Dalam hal ini, minum menjadi sangat penting," kata Faust.

Faust menambahkan, seseorang bisa bertahan hidup tanpa makanan untuk waktu yang cukup lama.

Kebutuhan kalori tubuh bisa dipenuhi sebelum atau sesudah masa panjang tanpa makanan. Namun, manusia sulit bertahan hidup tanpa air.

Salah satu tantangan yang dihadapi para tentara Muslim di Jerman adalah mengatur jadwal makan, terutama karena waktu berbuka selalu bergeser beberapa menit setiap hari.

Sehingga, harus terdapat kompromi antara para prajurit Muslim ini dengan pengelola kantin untuk mengatasi masalah tersebut.

Sejauh ini, tak pernah terjadi masalah soal jadwal makan dan berbuka puasa. Selain itu, militer Jerman juga menyediakan makanan halal bagi para prajuritnya.

Tak hanya itu, militer Jerman juga memastikan bahwa para juru masak menggunakan peralatan memasak khusus untuk mengolah makanan halal.

Militer juga memastikan agar penyimpanan daging babi tak dicampur dengan makanan halal yang biasa dikonsumsi para prajurit beragama Islam.

Dan jika jadwal tugas mereka memungkinkan, maka para serdadu itu memilih pulang ke rumah dan berbuka dengan keluarga.

Bagi para prajurit ini, bulan Ramadhan adalah masa untuk berkumpul bersama keluarga, sekaligus menjalankan ibadah dan memupuk rasa solidaritas.
iklan