Bela Negara: Militer Akan Latih Preman di Bali Sebagai Kader

Tentara akan memberikan pelatihan "semi-militer" dengan kepada anggota ormas preman di pulau Bali. Mereka akan dilatih menjadi "warga negara yang baik", kata jurubicara Kodam IX Udayana.




Pelatihan Bela Negara di provinsi Bali akan melibatkan para preman dan anggota ormas setempat, kata Kepala Penerangan Komando Daerah Militer IX Udayana (Kapendam) Letkol Infantri J. Hotman Hutahaean.

Selanjutnya Kapendam Udayana menjelaskan, materi pelatihan itu juga meliputi pengenalan senjata "sehingga peserta tidak bosan" dan bisa merasakan apa yang dijalani para anggota militer.

"Akan ada materi lain ... seperti marching dan pelatihan fisik... supaya mereka mengetahui hak-hak dan kewajibannya, terutama para preman, karena mereka harus siap untuk menjadi warga negara yang baik, "katanya.
Indonesien Bela Negara defend the nation Programm Pelatihan kader Bela Negara di Bogor



Letkol Infantri Hotman Hutahean menerangkan, pelatihan para preman Bali akan dimulai bulan Agustus. Pesertanya diharapkan berjumlah 100 orang. Namun dia menegaskan, orang-orang yang punya catatan kriminal tidak akan diterima menjadi kader Bela Negara.

Pelatihan bela negara bukan bermaksud menguatkan ormas-ormas, namun lebih kepada menuntun penyadaran diri anggota ormas "agar menjadi masyarakat yang baik", tandasnya.

Kementerian Pertahanan di bawah Menteri Ryamizard Ryacudu sejak beberapa waktu mengalakkan pelaksanaan probram yang disebut Pelatihan Bela Negara. Tujuannya menjaga Indonesia dari pengaruh-pengaruh asing "seperti komunisme, ekstremisme agama dan homoseksualitas."

Sebagian kalangan menilai, penggalakkan program ini adalah reaksi atas keinginan Presiden Jojo Widodo menyelidiki kembali peristiwa pembantaian anti PKI 1965-1966. Upaya itu telah membuat marah beberapa petinggi dan purnawirawan militer



Program Bela Negara yang sudah dimulai di beberapa tempat, antara lain di Bogor, mengundang pertanyaan kritis dari sebagian kalangan masyarakat.

"Mereka pada dasarnya memberdayakan orang-orang muda dengan latar belakang tidak jelas, yang nantinya akan bermain sebagai tentara, "kata pengamat pertahanan Yohanes Sulaiman.

"Mempersenjatai sipil, atau melatih mereka menggunakan senjata bukan ide yang baik, kecuali jika Anda mengawasi mereka dengan baik dan memiliki aturan hukum dan peraturan untuk mengendalikan mereka."

Kementerian Pertahanan meluncurkan program "Bela Negara" tahun lalu untuk melawan apa yang mereka sebut erosi nilai-nilai nasionalisme. Tujuannya adalah untuk membentuk garda jutaan pegawai negeri, dokter, mahasiswa dan kelompok masyarakat lain yang nanti dilibatkan dalam pertahanan sipil.

Tapi banyak pengamat menilai, program Bela Negara" sebagai upaya oleh militer, yang pernah menguasai kehidupan politik di Indonesia selama beberapa dekade, untuk kembali lagi ke sistem Dwi Fungsi, setelah peran iotu dihapus saat orang kuat Suharto mengundurkan diri tahun 1998.

Menurut sumber militer, saat ini sudah ada sekitar 1,8 juta orang yang mendaftar. Di beberapa tempat, pelatihan kader Bela Negara sudah mulai berjalan.

hp/rn (rtr, afp)


iklan