AS Ketir-ketir, Pesawatnya Sering Dicegat Jet Rusia dan China

WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) merasa sangat khawatir dengan maraknya pencegatan pesawat militernya oleh pesawat-pesawat jet tempur Rusia dan China.
 
 


Sebaliknya, China dan Rusia kompak menuduh pesawat pengintai AS melanggar keamanan nasional mereka.

Pekan lalu pesawat militer China mencegat pesawat pengintai AS di dekat Pulau Hainan. Namun, saluran militer antara Washington dan Beijing masih terjalin balik, terbukti dengan digelarnya konferensi militer maritime pada 24-25 Juni 2016 mendatang.
 
 


Kendati demikian, Panglima Komando Angkatan Udara AS, Jenderal Herbert Carlisle dalam sebuah wawancara dengan surat kabar USA Today, mengungkapkan rasa ketir-ketir AS atas “agresivitas” jet-jet tempur China dan Rusia dalam mencegat pesawat militer AS.

AS, kata dia, khawatir bahwa kedua negara memperluas pengaruh mereka di Eropa Timur dan Pasifik.
Jenderal Carlisle juga mengatakan bahwa jumlah manuver pesawat pengebom jarak jauh Rusia di Eropa Timur dan di dekat pantai barat AS meningkat. Sedangkan China semakin berambisi ingin mengambil kontrol atas kawasan Laut China Selatan.

”Kekhawatiran kami adalah kebangkitan Rusia dan China sangat, sangat agresif," katanya.

”Maksud mereka adalah untuk membuat kami untuk tidak berada di sana. Jadi, bahwa pengaruh di ruang-ruang internasional dikendalikan hanya oleh mereka. Keyakinan saya adalah bahwa kami tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kami harus terus beroperasi secara legal di wilayah udara internasional dan jalur laut internasional,” katanya.

Sementara itu, pakar militer China, Zhang Junshu,  dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Global Times, mengatakan bahwa peningkatan jumlah pesawat mata-mata AS di dekat perbatasan China dan Rusia merupakan pelanggaran serius terhadap keamanan kedua negara.

Selama tiga minggu terakhir, pesawat mata-mata RC-135 dari Angkatan Udara AS telah mendekati perbatasan Rusia 14 kali, termasuk di Laut Baltik, di Murmansk Regionh dan di Timur Jauh.

Insiden terbaru terjadi pada hari Minggu ketika sebuah pesawat RC-135V terbang dekat perbatasan Rusia di Laut Baltik. Pesawat dengan nomor ekor 64-14844 dan call sign TROG34, lepas landas dari pangkalan udara Mildenhall di Inggris dan terbang di bagian selatan Laut Baltik.

”Pada 1990-an, AS tidak melakukan penerbangan pengintaian di atas (wilayah) Rusia karena pada saat itu militer Rusia lemah. Sekarang, mereka khawatir dengan kebangkitan kekuatan militer Rusia. Ini adalah mengapa Pentagon telah mengintensifkan intelijen udara,” kata ahli militer Rusia, Vladislav Shurygin, seperti dikutip oleh channel  Zvezda TV, Senin (6/6/2016).


(mas) sindonews
iklan