Antisipasi Agresi Rusia, Norwegia Tingkatkan Anggaran Militer

OSLO, KOMPAS.com - Pemerintah Norwegia akan meningkatkan anggaran militernya sebagai antisipasi atas kemungkinan agresi Rusia atau yang disebut PM Erna Solberg sebagai "tetangga di timur yang tak bisa ditebak".



Apalagi negara Skandinavia meruspakan salah satu negara anggota NATO memiliki garis perbatasan dengan Rusia.

Jika rencana ini disetujui parlemen maka anggaran militer negeri itu akan meningkat hingga 165 miliar kroner atau sekitar Rp 264,5 triliun dalam waktu 20 tahun.

"Sayang sekali situasi geopolitik berubah sangat signifikan, dalam cara yang buruk, di beberapa tahun terakhir," kata PM Solberg kepada media di Oslo.

"Kita memiliki tetangga yang tak bisa ditebak di timur yang terus memperkuat militernya dan menunjukkan niat untuk menggunakan kekuatan militer sebagai sarana politik," tambah dia.

Jika rencana pemerintah Norwegia ini disepakati maka anggaran tambahan itu akan digunakan untuk membeli sejumlah peralatan perang seperti empat kapal selam, 52 jet F-35 dan pesawat pengintai AL.

Meski tambahan anggaran militer Norwegia itu cukup signifikan tetapi tetap saja belum mencapai target NATO yang meminta anggota mengalokasikan dua persen anggaran belanja untuk kebutuhan militer.

Selain itu juga muncul rencana militer Norwegia akan ditempatkan di Finnmark, wilayah timur laut Norwegia yang berbatasan dengan Rusia.

Meski pengajuan anggaran pertahanan ini cukup siginifikan tetap saja tak membuat angkatan bersenjata Norwegia menjadi sebuah militer besar yang kuat.

Militer Norwegia tetap berjumlah sedikit dan diperkirakan tidak akan mampu bertahan dalam sebuah serangan militer serius.

Rusia menyebabkan kecemasan global, terutama bagi negara-negara yang menjadi tetangganya, sejak aneksasi Semenanjung Krimea pada 2014.

Sejak saat itu kondisi di wilayah timur Eropa tersebut semakin hangat diwarnai berbagai latihan militer dan unjuk kekuatan di kedua sisi.

Awal Juni, NATO menggelar latihan militer terbesar sejak akhir Perang Dingin di Polandia, yang juga bertetangga dengan Rusia.

Latihan dengan kode Anakonda-16 itu diikuti 20 negara dan 30.000 prajurit yang berlangsung selama 10 hari.

Pada Februari, Rusia juga menggelar latihan militer yang melibatkan 8.500 tentara, serja sejumlah pesawat tempur dan kapal perang di wilayah selatan negeri itu yang tak jauh dari wilayang bergolak di Ukraina timur.
iklan