Adang Kapal Cina di Natuna, TNI Siagakan Lima KRI dan Satu Pesawat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panglima TNI, Jenderal TNI, Gatot Nurmantyo, menegaskan, para personel TNI akan terus melaksanakan patroli keamanan secara intensif di sekitar Laut Natuna, Kepulauan Riau. Langkah ini sebagai bentuk antisipasi terkait masuknya sejumlah kapal nelayan asal Cina ke wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), akhir pekan lalu. 



Bahkan, Panglima TNI mengungkapkan, TNI bakal menyiagakan lima Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan satu pesawat udara. Semua Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) itu digunakan untuk melakan pengintaian dan penindakan terhadap kapal-kapal ikan asing, yang melanggar batas kedaulatan perairan Indonesia. 



''Kami mengirimkan lima KRI dan satu pesawat CN untuk mengintai. Tujuan kami adalah jangan sampai masuk lagi (Kapal Ikan Asing) dan kami antisipasi dengan menangkapnya. Kalau kami tidak menangkapnya, berarti kami tidur,'' ujar Panglima TNI di Jakarta, Rabu (22/6).

Secara khusus, Panglima TNI menjelaskan, salah satu upaya untuk menjaga keamanan di sekitar wilayah-wilayah dan pulau terdepan Indonesia, termasuk Laut Natuna, adalah dengan pembangunan Armada dan pengadaan Alutsista pendukung berupa pesawat tanpa awak (Drone). Peran pesawat tanpa awak ini dinilai strategis lantaran dapat menjadi pengumpul informasi dan alat pengintai.

''Drone itu dimanfaatkan sebagai pesawat tanpa awak, yang bisa terbang sendiri. Drone itu bisa mengintai dan menginformasikan apa yang dilewati,'' kata Gatot. 
Terkait penangkapan yang dilakukan para personel TNI AL terhadap satu kapal nelayan asal Cina, Gatot menegaskan, langkah tersebut sudah sesuai prosedur yang sudah ada. Panglima TNI pun menyerahkan sepenuhnya proses penegakan hukum yang berlaku. Bahkan, bukan tidak mungkin, jika nantinya kapal-kapal pelaku pencurian ikan itu bakal ditenggelamkan.
iklan