TNI Rumuskan Pola Pengamanan Laut di Perbatasan Malaysia-Filipina

JAKARTA, KOMPAS.com - TNI sedang merumuskan pola pengamanan bersama antara militer Indonesia, Malaysia dan Filipina di wilayah perairan perbatasan ketiga negara.

Perumusan ini merupakan tindak lanjut yang lebih kongkret dari pertemuan Menteri Luar Negeri dan Panglima militer Indonesia, Malaysia dan Filipina di Yogyakarta, Kamis (5/5/2016).
"Kami merumuskan SOP (pengamanan)-nya bagaimana," ujar Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Kompleks Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/5/2016).
SOP yang dimaksud terkait pola dan bentuk pengamanan sehari-hari atau aturan soal cara bertindak masing-masing angkatan jika ada situasi darurat di wilayah perairan perbatasan ketiga negara tersebut.
(baca: Abu Sayyaf Akan Penggal Satu Sandera jika Tebusan Tak Dibayar pada 13 Juni)
Meski demikian, hasil rumusan dari TNI bukan hasil akhir. Rumusan tersebut akan dikirim ke pihak Filipina dan Malaysia terlebih dahulu untuk disetujui.
"Nanti kan Malaysia koreksi, Filipina koreksi juga. Kalau semua sudah setuju, baru secara formal disepakati, apakah itu dilakukan di Indonesia, Malaysia atau Filipina, belum tahu," ujar Gatot.
(baca: Menhan: Jangan Main Klaim-klaiman Lagi kalau Ada Sandera Bebas)
Gatot tidak dapat memperkirakan berapa lama pihaknya merumuskan pola pengamanan bersama tersebut. Ia hanya berharap agar rumusan itu segera rampung.
Pembahasan tiga negara soal pengamanan wilayah perairan perbatasan muncul setelah rentetan peristiwa pembajakan disertai penculikan oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf.
Setidaknya, ada 14 warga negara Indonesia yang diculik dan disandera selama beberapa waktu. Mereka berhasil dibebaskan dan kembali ke tanah air.
iklan