Soekarno, Kimilsungia dan Unifikasi Korea

INDONESIA dan Korea Utara (Korut). Jika menyebut jalinan dan keterikatan kedua negara yang terpisah di belahan bumi selatan dan utara ini, tentu kita takkan luput menyebut Kimilsungia – varian bunga anggrek hasil persilangan yang awalnya bernama Dendrobium Clara Bundt.


Anggrek ini bisa begitu ternama di Korut, lantaran pada 1965 lalu sebelum pecahGerakan 30 September (G30S) 1965, pernah menarik hati The Great Leader, Kim Il-sung.
Pemimpin Korut yang datang bersama putranya, Kim Jong-il itu, terpesona dengan anggrek ini setelah diajak pelesiran oleh Presiden RI pertama, Soekarno di Kebun Raya Bogor.
Kim Il-sung sempat menolak saat Presiden Soekarno menawarkan anggrek itu sebagai hadiah yang pada akhirnya diterima dengan baik. Bunga itu diberi namaKimilsungia yang mengambil sebutan Kim Il-sung dan Indonesia, sebagai simbol abadi persahabatan Indonesia-Korut.

Selain pemberian Kimilsungia yang kini jadi satu dari dua bunga yang dijadikan ikon nasional Korut, penguatan hubungan Jakarta-Pyongyang sedianya sempat juga diwarnai penciptaan sebuah lagu bertajuk “Soekarno-Kim Il Sung”.
Sebagaimana dikutip dari buku ‘Heirs to World Culture: Being Indonesian, 1950-1965’ karya Jennifer Lindsay, lagu itu diciptakan S.W. Kuntjahjo dan diaransemen M. Karatem, untuk menyambut kedatangan Kim Il-sung ke Istana Negara pada 10 April 1965 silam.
Momen pemberian bunga Kimilsungia dan persembahan lagu itu, merupakan balasan kunjungan kakek pemimpin Korut saat ini, Kim Jong-un tersebut, setelah sebelumnya pada medio November 1964, Presiden Soekarno bertamu untuk kali pertama ke Pyongyang, Ibu Kota Korut bersama rombongan 70 delegasi.
Ketika itu, Indonesia belum punya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) seperti sekarang yang ada di Pyongyang, melainkan baru sekadar kantor pewakilan setingkat Konsulat Jenderal, pasca-lahirnya hubungan diplomatik Indonesia-Korut pada 1961.Selain pemberian Kimilsungia yang kini jadi satu dari dua bunga yang dijadikan ikon nasional Korut, penguatan hubungan Jakarta-Pyongyang sedianya sempat juga diwarnai penciptaan sebuah lagu bertajuk “Soekarno-Kim Il Sung”.
Sebagaimana dikutip dari buku ‘Heirs to World Culture: Being Indonesian, 1950-1965’ karya Jennifer Lindsay, lagu itu diciptakan S.W. Kuntjahjo dan diaransemen M. Karatem, untuk menyambut kedatangan Kim Il-sung ke Istana Negara pada 10 April 1965 silam.
Momen pemberian bunga Kimilsungia dan persembahan lagu itu, merupakan balasan kunjungan kakek pemimpin Korut saat ini, Kim Jong-un tersebut, setelah sebelumnya pada medio November 1964, Presiden Soekarno bertamu untuk kali pertama ke Pyongyang, Ibu Kota Korut bersama rombongan 70 delegasi.
Ketika itu, Indonesia belum punya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) seperti sekarang yang ada di Pyongyang, melainkan baru sekadar kantor pewakilan setingkat Konsulat Jenderal, pasca-lahirnya hubungan diplomatik Indonesia-Korut pada 1961.
Sejak saat itu, relasi Indonesia-Korut sangat erat, bagaikan dua saudara kandung. Hal yang juga diakui Duta Besar Korut untuk Indonesia, Ri Jong-ryul, sebagaimana yang diwartakan kantor berita Antara, April 2015 lalu.
“Hubungan antara Persiden Soekarno dan Presiden Kim Il-sung sangat istimewa dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Presiden Soekarno juga dikenal baik oleh rakyat DPRK (Korut),” sebut Dubes Ri.
Masih mengenai momen kunjungan di Pyongyang, Presiden Soekarno pernah mengungkit isu unifikasi antara Korut dan saudara mereka, Korea Selatan (Korsel), setahun pasca-melawat ke Ibu Kota Korut itu.
Dalam sebuah pidatonya di Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), 6 Desember 1965, Presiden Soekarno mengaku tidak hanya ditemui para pemuda Korut, tapi juga sejumlah pemuda Korsel yang ternyata, menyelinap masuk ke Pyongyang demi bisa menemui Soekarno.
“Korea, Korea Utara, Korea Selatan. That is a nation divide (negara yang terpecah). Tetapi rakyat Korsel, rakyat Korut, rakyatnya tidak dividing themselves against themselves (memecah diri sendiri dan saling bertentangan), tidak!,” seru Soekarno dalam buku ‘Revolusi Belum Selesai’.
“Cuma pentol-pentolnya (petinggi) yang di selatan, di utara, nah itu gontok-gontokan. Tapi rakyatnya malahan makin berkobar-kobar, punya semangat nasionalisme. Di Pyongyang, saya tidak hanya bertemu pemuda Korut, tapi juga para pemuda Korsel,” tambahnya.
“Mereka nyelundup ke Pyongyang. Saya tanya, kamu orang datang ke sini (Pyongyang) buat apa? Untuk menyatakan kepada Saudara Soekarno, bahwa kami rakyat Korea ingin bersatu kembali dan malahan, kami akan berjuang untuk bersatu kembali,” tandas Soekarno.
Namun terlepas dari itu, hubungan Indonesia-Korut terusik peristiwa G30S. Dampaknya, relasi kedua negara sempat merenggang meski tidak terputus. Hingga saat ini, hubungan Indonesia-Korut seolah masih kaku, lantaran pemerintah RI turut mendesak Korut untuk tidak melanjutkan program nuklirnya.
(Sil)
okezone
iklan