Putin Akan Bentuk "Tentara Super" untuk Memerangi ISIS

MOSKWA, KOMPAS.com — Presiden Rusia Vladimir Putin sedang bersiap membentuk "tentara super" untuk menghancurkan kelompok teror Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Kelompok ISIS yang menjadi target berada di dalam maupun di luar negeri, seperti dilaporkan oleh situs berita Express.co.uk,Jumat (20/5/2016).    
Putin menekankan, Rusia takkan memberi toleransi kepada kelompok penjahat paling brutal itu.
Pasukan Garda Nasional, yang telah disetujui oleh parlemen Rusia, akan berada langsung di bawah komando pribadi Putin.
Garda Nasional akan digunakan dalam operasi-operasi kontra-terorisme di seluruh planet ini, dan memiliki kekuasaan yang besar.

Kekuasaan itu termasuk wewenang untuk menembak ke kerumunan massa dan menahan para tersangka untuk diinterogasi secara intensif dan tak terbatas.
Para pakar mengatakan, pasukan yang kejam ini akan bertindak sebagai "perpanjangan" tangan Putin.
Pasukan ini akan digunakan untuk melakukan operasi militer di seluruh dunia, menahan tersangka teror selama diperlukan untuk mendapatkan data intelijen sebelum diserahkan kepada polisi.
Mantan pemimpin Komite Keamanan Negara (KGB) era Uni Soviet yang kini menjadi Badan Keamanan Federal (FSB) itu telah mendapat dukungan dari parlemen Rusia.
Unit elite Garda Revolusi akan dipimpin oleh salah satu mantan pengawal pribadi Putin, yakni Viktor Zolotov.
Parlemen Rusia telah meloloskan rancangan undang-undang kontroversial. Dari 345 anggota parlemen, hanya 14 orang di antaranya yang menolak rancangan UU tersebut.
Zolotov akan memberikan laporan langsung kepada Presiden Rusia itu. Hal tersebut akan menjadi pegangan kuat bagi Putin dalam melakukan berbagai upaya kontra-terorisme.
Hal itu juga memungkinkan Putin untuk memberikan tindakan keras kepada kelompok jihad yang kemungkinan telah membiak di dalam negerinya.
Satu di antara sejumlah kewenangan baru yang diberikan kepada garda tersebut adalah izin untuk menembak ke kerumunan orang selama ada serangan teroris atau terjadi penyanderaan.
Para pengamat mengatakan, metode itu sebenarnya tidak diizinkan oleh aparat kepolisian karena berisiko melukai atau membunuh warga sipil yang tidak bersalah.
Personel Garda Nasional juga akan ditempatkan untuk misi tempur di luar negeri, termasuk operasi memerangi ISIS di Timur Tengah hingga misi-misi penjaga perdamaian.
Tatiana Stanovaya dari Center of Political Technologies di Moskwa mengatakan, pasukan penjaga baru itu akan sangat berhubungan erat dengan Putin, bahkan akan menjadi "perpanjangan Putin itu sendiri".
Sosiolog Rusia, Ella Paneyakh, menambahkan, Garda Nasional itu tidak seperti lembaga penegak hukum yang lain. Mereka adalah tentara yang berbeda, dengan hak untuk melakukan operasi militer di dalam negeri dan terhadap warga negara.
Editor: Pascal S Bin Saju
iklan