"Kami Mengaku Muslim pada Abu Sayyaf...."

JAKARTA - Peter B. Tonson, satu dari sepuluh seorang anak buah kapal (ABK) Indonesia yang dibebaskan kelompok Abu Sayyaf, mengatakan demi keselamatan semua ABK mengaku sebagai Muslim.
 


Sepuluh warga negara Indonesia (WNI) ini dibebaskan hari Minggu kemarin oleh Abu Sayyaf, di rumah Gubernur Sulu, di Jolo, Filipina selatan. Hari ini, Peter dan rekan-rekannya, tiba di kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia hari Senin (2/5/2016) sebelum diserahkan ke keluarga masing-masing.

Peter yang menjadi nakhoda Kapal Brahma ditanya, apakah diinterogasi Abu Sayyaf soal keyakinan para sandera. Menurut Peter, sejak semua ABK mengaku sebagai Muslim demi keselamatan.

”Kalau itu, kami mengaku (pada Abu Sayyaf) kalau kami Muslim. Ada tiga orang yang mengaku Muslim untuk keselamatan kami,” katanya.

Peter mengatakan, selama disandera sekitar lima minggu, semua ABK Indonesia tidak mendapat intimidasi fisik.

“Kekerasan tidak ada, ancaman, dan tekanan juga tidak ada,” kata Peter.

Sang Nakhoda ini melanjutkan bahwa Abu Sayyaf mengajak semua sandera berpindah-pindah lokasi. Meski disandera sebulan lebih, Peter mengaku tidak mengenali wajah para anggota Abu Sayyaf, karena ditutupi masker.

”Lokasi selalu pindah-pindah. Kami tidak tahu (wajah mereka), muka mereka ditutup masker. Pindah-pindah itu demi keamanan kami juga, karena setiap ada operasi militer, mereka pasti mengajak pindah,” ujarnya.

Keterangan senada juga diutarakan oleh seorang ABK Indonesia lainnya; Wawan Saputra. Menurutnya, setiap saat dia dan sembilan rekannya dijaga ketat oleh anggota Abu Sayyaf.

”Di situ apa yang mereka makan, kami juga makan, seperti mangga dan nasi. Mereka tidur di tanah, kami juga. Kami selalu berpindah setiap malam, mereka berpindah dengan alasan keamanan karena mereka diserang oleh militer Filipina,” ujarnya.


(mas)
sindonews
iklan