Invasi Suriah, Turki Tolak Kemungkinan Bentrok dengan Rusia

ANKARA - Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu mengesampingkan kemungkinan konflik antara Turki dengan Rusia jika Ankara memulai operasi militer di Suriah. Sebelumnya, Rusia sudah menegaskan bahwa setiap bentuk operasi darat di Suriah tanpa persetujuan Damaskus adalah bentuk invasi.



"Ini adalah skenario yang salah. Bukan Rusia yang sedang menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh ISIS, tapi Turki," kata Davutoglu dalam wawancara dengan Al Jazeera Turki, seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (4/5/2016).

Davutoglu menambahkan, perjuangan internasional melawan ISIS diatur oleh resolusi PBB dan bahwa Turki tidak ingin rontok dengan negara manapun. Ia pun menyatakan bahwa Turki dan Rusia saling membutuhkan. Namun begitu, kekuatan regional tetap yang lebih penting.

"Kode etik kami tidak berubah. Rusia dan Turki selalu bertetangga. Saat ini, bagi negara kita yang terpenting adalah keamanan wilayah. Kita saling membutuhkan satu sama lain. Insiden pesawat waktu itu tidak diarahkan terhadap Rusia," tutur Davutoglu.

Hubungan Rusia-Turki memburuk menyusul ditembak jatuhnya pesawat Rusia, Su-24, oleh pesawat F-16 Turki F-16 di perbatsan Suriah pada tanggal 24 November 2015. Saat itu jet Rusia tengah melakukan operasi udara di Suriah dan Turki menyatakan bahwa jet Rusia telah melanggar batas wilayahnya.


(ian)
sindonews
iklan