China Bakal Bebaskan Tawanan Terakhir Peristiwa Tiananmen

BEIJING - China akan membebaskan seorang pria yang diyakini sebagai orang terakhir yang dipenjara karena berpartisipasi dalam protes Tiananmen. Demikian pernyataan yang dikeluarkan kelompok hak asasi manusia.



Miao Deshun, yang pada saat insiden adalah seorang pekerja, dihukum karena dituduh telah melakukan pembakaran. Ia dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan hukuman selama dua tahun pada bulan Agustus 1989.

Hukumannya kemudian diringankan menjadi seumur hidup dan dikurangi 11 bulan pada awal tahun ini. Ia pun bakal bebas pada bulan Oktober ini, seperti dikatakan Dui Hua Foundation yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

"Kami menyambut berita ini, dan mengungkapkan harapan bahwa ia akan menerima perawatan yang ia butuhkan untuk melanjutkan kehidupan normal, setelah menghabiskan lebih dari setengah hidupnya di balik jeruji besi," kata direktur eksekutif Dui Hua Foundation, John Kamm, dalam sebuah pernyataan tertulis dikutip dari lamanTelegraph, Rabu (4/5/2016).

Menurut Dui Hua, Miao tidak pernah melakukan kontak dengan dunia luar selama bertahun-tahun dan menderita penyakit Hepatitis B dan Skizofrenia. Ia menolak untuk mengakui kesalahan atau berpatisipasi dalam kerja di penjara. Selama dipenjara, ia menghabiskan waktunya di sel isolasi.

Peristiwa Tiananmen atau Peristiwa Lapangan Tiananmen adalah aksi demontrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa dan kaum pekerja. Aksi demonstrasi itu adalah bentuk kekecewaan mereka atas bobroknya sistem birokrasi yang dilakukan oleh Pemerintah China.

Aksi ini berakhir dengan kekerasan, dimana saat itu pemerintah China menggunakan kekuatan militer, termasuk menggunakan tank, untuk membubarkan aksi demonstrasi.


(ian)
sindonews
iklan