Kunjungan Presiden Obama ke Arab Saudi Disambut Dingin

RIYADH - Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Arab Saudi disambut dingin. Obama bahkan tidak disambut langsung oleh Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz ketika tiba di Riyadh, hari Rabu.



Pemandangan tidak biasa itu terjadi ketika Obama tiba di Riyadh menjelang KTTPenangulangan Terorisme yang membahas juga soal Iran dan Perang di Yaman.

Obama yang tiba dengan pesawat Air Force One tidak ditemui langsung oleh Raja Salman, tetapi oleh Gubernur Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar Al Saud. Bahkan,pertemuan itu tidak disiarkan secara langsung di televisi Pemerintah Saudi, seperti biasanya.


Namun Obama akhirnya melakukan foto bersama dengn Raja Salman di Istana Erga. Obama, seperti dikutip IB Times mengucapkan basa-basi diplomatik seperti biasa. 


Mengacu pada KTT Gulf Cooperation Council (GCC) yang akan berlangsung dengankeamanan ketat pada Kamis (21/4/2016), Obama mengatakan; "Orang-orang Amerika mengirim salam mereka dan kami sangat berterima kasih atas keramahan Anda, tidak hanya untuk pertemuan ini, tetapi untuk tuan rumah KTT GCC-AS yang berlangung besok (hari ini).”

Ini adalah kunjungan keempat dan mungkin yang terakhir bagi Obama ke Kerajaan Saudi sebelum ia menuju ke London, kemudian Jerman. Obam dan Raja Salman kembaliberfoto sebelum melakukan pertemuan dua jam.

Berbicara melalui seorang penerjemah Raja Salman mengatakan: "Saya dan orang-orang Saudi sangat senang bahwa Anda, Presiden, mengunjungi kami.


Hubungan antara AS dan Arab Saudi sedang goyah karena kombinasi faktor, termasuk jatuhnya harga minyak, krisis di Timur Tengah, Yaman, masalah hak asasi manusia, kesepakatan nuklir AS dengan Iran dan dampak diplomatik dari serangan teror 11 September pada tahun 2001 di mana Saudi disebut-sebut terlibat dalam serangan.


Dari total 19 pembajak pesawat yang menyerang menara WTC dalam serangan 9/11, 15di antaranya berasal dari Arab Saudi. Bahkan, publik AS khususnya keluarga korban serangn 9/11, menekan Obama mengungkap materi penyelidikan “28 halaman” yang disensor karena dicurigai di dalamnya memuat dugaan keterlibatan Saudi.


(mas)
sindonews
iklan