Jika Capres Ini Menang, Filipina Putus Hubungan dengan AS

MANILA - Calon presiden (capres) Filipina, Rodrigo Duterte, menegaskan bahwa bila terpilih sebagai presiden maka Filipina akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) dan Australia.



Pernyataan berani itu muncul setelah duta besar AS dan Australia mengkritik komentarnya tentang pemerkosaan terhadap misionaris wanita Australia selama kerusuhan di penjara tahun 1989. 


Duterte membuat komentar lelucon, di mana korban perkosaan itu terlalu cantik dan dia sebagai walikota saat itu semestinya jadi orang pertama yang memperkosa. Komentar lelucon itu menuai kecaman luas, termasuk dari kedubes AS dan Australia di Manila.

Tapi, Duterte tidak terima pihak asing ikut campur dalam proses Pemilu Filipina.

Jika saya menjadi presiden, melangkah ke depan dan memutuskan itu (hubungan diplomatik), kata capres berusia 71 tahun itu saat berkampanyeAustralia dan AS adalah dua sekutu dekat dari Filipina.


Itu bukan lelucon ketika saya menyebut itu (pemerkosaan tahun 1989). Mereka menganggapnya sebagai lelucon ketika saya ceritakan. Duta ini bodoh. Saya marah ketika saya menyebut itu. Ketika saya ceritakan itu, saya tidak marah lagi,” kataDuterte kepada wartawan ketika kampanye di Kalibo, di Provinsi Aklan, seperti dikutip IB Times, Jumat (22/4/2016).

Ini akan dilakukn dengan baik dengan Duta Besar Amerika dan Duta Besar Australia untuk menutup mulut mereka. Anda bukan warga Filipina. Diam. Jangan mengganggu karena saat ini Pemilu,” lanjut dia.

Duterte telah dikecam secara luas atas komentar kasus perkosaan yang menimpaJacqueline Hamill, seorang misionaris wanita asal Australia. Dia diperkosa dan dibunuh ketika kerusuhan pecah di sebuah penjara di Davao tahun 1989. Duterte kala itu adalah Wali Kota Davao.

Amanda Gorely, Duta Besar Australia untuk Filipina mengatakan di Twitter: ”Perkosaan dan pembunuhan tidak boleh dibuat bercanda atau disepelekan. Kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan tidak dapat diterima kapan saja, di mana saja.

Demikian pula dengn Philip Goldberg, Duta Besar AS untuk Filipina.”Pernyataan oleh siapapun, dimanapun yang merendahkan wanita atau meremehkan masalah sangat serius seperti pemerkosaan atau pembunuhan adalah yang tidak kita maafkan,” katanya.


(mas)
sindonews
iklan