Istri Tawanan Abu Sayyaf Minta Jokowi Terbang ke Filipina

MAKASSAR - Batas waktu yang diberikan kelompok Abu Sayyaf kepada pemerintah Indonesia menyediakan uang tebusan untuk membebaskan 10 warga negara Indonesia (WNI) semakin dekat. 



Kondisi tersebut membuat keluarga sandera merasa kian khawatir terhadap nasib tawanan. Kekhawatiran itu terpancar dari wajah Andi Tahira, istri Surianto, salah satu kru kapal Indonesia yang dibajak kelompok Abu Sayyaf di perairan Languyan, Filipina pada 26 Maret 2016.

Di sudut rumahnya di Gilireng, Wajo, Sulawesi Selatan pada Senin 4 April 2016, Tahira terlihat serius memperhatikan telepon genggamnya berharap ada kabar mengenai nasib suaminya.

Telepon pun berdering. Ternyata panggilan itu dari perusahaan tempat suaminya bekerja di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Dengan mengaktifkan speaker telepon genggamnya, Tahira memperdengarkan pembicaraanya dengan pihak perusahaan suaminya kepada kedua orangtua Surianto yang juga terlihat cemas.

Pihak perusahaan memberikan kabar bahwa Surianto dan seluruh kru kapal  dalam kondisi sehat. Pihak perusahaan juga mengungkapkan saat ini telah berlangsung negosiasi dengan penyandera.

"Pihak perusahaan tidak menjelaskan siapa yang terlibat negosiasi itu," ungkap Tahira, Senin 4 April 2016.

Tidak hanya menyandarkan upaya yang dilakukan perusahaan tempat suaminya bekerja, Tahira juga berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun langsung bernegosiasi dengan penyandera.

Tahira berharap Presiden Jokowi terbang ke Filipina untuk untuk membebaskan suaminya dan para kru kapal.

Seperti diketahui, kelompok Abu Sayyaf memberikan waktu hingga 8 April 2016 kepada Pemerintah Indonesia untuk menyediakan 50 juta peso atau Rp15 miliar untuk membebaskan 10 WNI kru kapal Brahma 12 yang dibajak pada 26 Maret 2016.





(dam)
sindonews
iklan