Indonesia Hendak Sebar Sistem Rudal Oerlikon Skyshield di Natuna

JAKARTA - Indonesia berencana menyebarkan sistem rudal pertahanan udara Oerlikon Skyshield di kawasan Kepulauan Natuna, Laut China Selatan, untuk melindungi wilayahnya itu.



Rencana Indonesia ini muncul di tengah ketegangan terkait sengketa kepulauan di Laut China Selatan antara China dan beberapa negara Asia.

Indonesia sudah berulang kali menegaskan tidak terlibat sengketa kepulauan di Laut China Selatan. Namun, wilayah Natuna tetap rawan setelah beberapa waktu lalu pasukan Indonesia dan China terlibat insiden di kepulauan Natuna yang memicu ketegangan diplomatik.

Sebuah transkrip yang diperoleh IHS Jane, militer Indonesia sudah bersiap untuk mengambil langkah-langkah guna menegaskan klaim teritorialnya sendiri.


Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) akan menyiagakan empat unitpasukan khusus yang dikenal sebagai Korps Pasukan Khas (PASKHAS), di Pulau Natuna Besar, di Laut China Selatan.


Unit ini dilengkapi dengan sistem rudal pertahanan udara Oerlikon Skyshield buatanRheinmetall. Unit-unit dengan sistem rudal ini akan ditempatkan di utara Pulau Natuna Besar dan di sepanjang pantai timur kawasan Pangkalan Udara Ranai TNI-AU.

Transkrip itu merupakan hasil pertemuan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dengan Komisi Pertahanan Intelijen dan Urusan Luar Negeri atau Komisi I DPR RI. Transkrip diperoleh IHS Jane pada 5 April 2016.

Sistem rudal Oerlikon Skyshield adalah sistem pertahanan udara modular termasukmeriam multirole otomatis 35 mm yang dapat menembakkan 1.000 putaran per menit, serta proyektil berpresisi yang dapat menembak jatuh pesawat.

Sistem ini sedang digunakan di pangkalan TNI AU Supadio, Halim Perdanakusuma, dan pangkalan udara Hasanuddin.


Menurut transkrip, pertemuan tersebut membahas pendanaan untuk mengakuisisi sistem rudal pertahanan udara jarak menengah untuk Pulau Natuna Besar. Selain itu, juga ada pembahasan untuk pengadaan hanggar tambahan guna menampung sekitar delapan pesawat tempur di pangkalan udara Ranai.

Pesawat-pesawat tempur itu mencakup pesawat jet tempur Su-27, Su-30, F -16 yang hendak dibeli, dan fasilitas skuadron kendaraan udara tak berawak (UAV) yang akan ditempatkan di sebelah timur dari Runway 36 Pangkalan Udara Ranai.

Besaran pendanaan mencapai USD91 juta. Rencana inni akan diselesaikan pada 2019.

Rencana militer Indonesia ini muncul di saat Amerika Serikat mendorong para sekutunya di Pasifik untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam melawan ekspansi militer China.Washington saat ini terlibat latihan militer “Balikatan” berskala besar dengan Filipina,sebagai sinyal untuk memberikan “pesan” pada Beijing.

Melihat fitur Balikatan—rudal peluncur mobile, pesawat tempuryang merupakan indikasi bahwa aliansi sedang diarahkan untuk pertahanan teritorial,” kata Rene de Castro, seorang profesor studi internasional di Universitas De La Salle yang dikutipDefense News.


(mas)
sindonews
iklan