Melihat Gua Peninggalan Tentara Jepang di Yogya

YOGYAKARTA - Berjarak sekitar 500 meter dari Candi Abang, terdapat empat gua peninggalan tentara Jepang yang berjejer. Sedikit tersembunyi dan samar. Karena dinding mukanya yang sudah berlumut. Serta di sekitarnya banyak ditumbuhi pepohonan rindang. 



"Batu utuh yang dibuat rongga, menjadikan sebuah gua," kata salah satu pengunjung di sana Paulus Pati Maran (30), mahasiswa yang tinggal di daerah Condongcatur, Depok, Sleman ini, Sabtu (26/3/2016). 

Selain cukup takjub dengan letaknya yang tersembunyi terhadap gua yang digunakan untuk sistem pertahanan ini, dia juga prihatin dengan nasib warga setempat yang dipaksa harus kerja paksa mengeruk bebatuan keras tersebut.

"Harus kerja keras, mungkin itu yang menjadi kesan setelah berkunjung," katanya.

Empat gua sisa peninggalan Jepang era 1942-1945 tersebut memang dulunya digunakan sebagai penyimpanan amunisi. Sistem pertahanan untuk melindungi objek-objek vital. Salah satunya lapangan penerbangan Adisutjipto dari tentara sekutu.

Dari letaknya yang berada di perbukitan, memang ada suatu pesan yang dapat diambil. Sebagai pelajaran untuk kehidupan sehari-hari. Karena letak geografis gua-gua peninggalan Jepang ini tak terlalu berbeda jauh dengan di daerah lainnya.

"Sisi lain dari penelitian yang telah dilakukan, betapa uletnya orang Jepang pada waktu itu," kata Peneliti Sarana Pertahanan Jepang Masa Perang Dunia Kedua Balai Arkeologi Yogyakarta Muhammad Chawari.

Letak-letak gua Jepang ini, banyak yang diperbukitan. Digunakan untuk tempat persembunyian serta penyerangan.

"Sarana offensive untuk menyerang serta untuk persembunyian. Kekhawatiran Jepang terhadap serangan sekutu dari atas (udara), maupun dari jalur-jalur darat. Sungai, jalan, atau jalur kereta api," jelasnya.

Puluhan, bahkan ratusan mungkin yang telah ditelitinya gua maupun bunker milik Jepang. Tak hanya akses jalannya yang susah, namun juga ancaman-ancaman lainnya. Seperti binatang buas.

"Di daerah Pati, setelah melewati pemukiman yang terakhir kita harus menyeberang satu sungai, dua kali. Kemudian naik ke perbukitan. Kalau tidak ada warga sana sebagai pemandu akan sulit," tuturnya.

Kemudian pengalamannya meneliti gua di daerah Banyuwangi. Sebelum waktu maghrib harus turun dari bukit, karena kepercayaan warga setempat sering muncul harimau.

"Ada juga medan yang kemiringannya lebih dari 45 derajat. Kok ya tahu-tahunya letak yang terpencil dan terjal. Sekarang saja masih sulit menjangkau beberapa gua. Apalagi masa dulu," tuturnya.

Dari situ, dia melihat masa pendudukan Jepang di Indonesia tetap saja ada hikmah yang dapat ditiru. "Keuletannya orang Jepang. Kita bisa belajar dari sana," pungkasnya.


(san)
sindonews
iklan