Belanja Militer Asia Meningkat, Singapura Ketakutan

 JAKARTA -- Peningkatan pengeluaran untuk pertahanan yang dilakukan beberapa negara di Asia membuat Singapura khawatir. Peningkan itu dinilai tidak sesuai dengan proporsi belanja militer dengan produk domestik bruto (PDB) masing-masing negara.



Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen mengatakan negara Asia tidak seharusnya meningkatkan belanja militer dan lebih mengedepankan kerjasama militer. Namun, itu tidak terjadi karena kerangka kerjasama yang telah dibangun sejak sepuluh tahun lalu tidak berarti sama sekali.

"Dalam jumlah Dollar, belanja militer di Asia telah melampaui Eropa. Asia, tidak seperti Eropa yang punya sejarah peperangan dan bibit konflik di masa depan," jelasnya seperti dilansir dari Bloomberg, Sabtu (26/3/2016).

Ketegangan di Laut China Selatan memang membuat bebreapa negara meningkatkan belanja militernya, terutama untuk kebutuhan alat utama sistem persenjataan laut dan udara. Ini sekaligus untuk mengganti senjata yang sudah uzur dan dipastikan tidak bisa diandalkan saat terjadi perang. Beberapa pakar menyebut, kondisi ini turut mendongkrak permintaan kapal selam dan jet tempur dari negara-negar Asia.

Belanja militer Singapura sejak 2010 menurut Ng cukup adil karena berada di kisaran 3%--3,3% dari PDB. Data Stockholm International Peace Research Institute menunjukkan, porsi belanja militer Singapura justru lebih tinggi dari Malaysa (1,5%), Filipina (1,1%), dan Vietnam (2,2%). Porsi belanja militer itu merupakan angka untuk tahun 2014.

Ng menjelaskan, sebetulnya Asia punya mekanisme kerjasama militer di bawah payung organisasi Association South East Easia Nation atau Asean. Namun, mekanisme itu jalan ditempat selama satu dekade. Kekurangan mekanisme kerjasama militer membuat beberapa negara gamang dalam menentukan sikap terkait aksi provokasi China di Laut China Selatan.

Adapun China tahun ini diperkirakan akan meningkatkan belanja militernya sebear 7,6% menjadi US$146 miliar, atau 2,1% dari total PDB. Presiden Xi Jinping memang tengah menyatukan seluruh matra pertahanan di bawah satu komando gabungan seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Ini dilakukan untuk menjaga kedaulatan China dan kepentingan China di luar negeri. Belakangan, manuver China di Laut China Selatan memang membuat gerah sejumlah negara seperti Vietnam,Filipina, dan Malaysia.

Bisnis.com
iklan