Bebaskan WNI yang Disandera, Personel Gabungan Disiapkan, Petinggi Militer Filipina Ikut Bahas

BERAPA personel yang akan membebaskan para sandera menjadi salah satu bahan perbincangan warga tadi malam. Di tengah persiapan pembebasan itu, Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) XIII, Laksamana Pertama Wahyudi H Dwiyono menyebutkan, operasi yang cukup sulit itu ‘hanya’ akan melibatkan 159 pasukan dari aparat gabungan TNI AL, TNI AU dan TNI AD.




“Kemungkinan masih bisa berkembang (bertambah, Red.),” ungkapnya saat ditemui oleh sejumlah media di ruang VIP Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan.

Wahyudi mengatakan, pembebasan sandera sangat penting dilakukan agar kedepannya tidak ada lagi kapal-kapal Indonesia yang dibajak oleh kelompok separatis. “Kalau dibiarkan akan menjadi kebiasaan oleh kelompok-kelompok tertentu, setiap kapal yang lewat akan diperlakukan seperti itu,” tegasnya.

Langkah tegas inipun, kata dia diambil lantaran sebelumnya kapal Malaysia juga sempat mendapat perlakuan yang sama. Pria yang akrab disapa Wahyudi ini juga mengatakan, pihaknya tidak hanya akan menyiapkan pangkalan labuh untuk kapal-kapal perang yang akan bersandar di pangkalan Tarakan, namun juga menyiapkan logistik untuk kebutuhan prajurit, akomodasi, bahan makanan maupun kebutuhan lainnya.

“Kita sudah siapakan itu semua, kita juga bekerjasama dengan pelabuhan, Pertamina,” beber pria yang suka gowes ini. “Karena kita belum tahu wujud operasinya nanti seperti apa, berapa lama, kita belum tahu. Kita tunggu saja,” ungkapnya.

Selain itu, saat ini juga sudah ada KRI Teluk Lampung di Tarakan yang siap menunggu perintah. Namun dikatakan Wahyudi, Teluk Lampung sudah beberapa hari di Tarakan untuk melakukan pengamanan perbatasan sehingga belum dikerahkan untuk melakukan pengamanan. “Itu (Teluk Lampung, Red.) sementara belum dilibatkan, karena itu ada misi tersendiri,” jelasnya.

Salah seorang anak buah kapal asal Indonesia yang disandera milisi Abu Sayyaf diketahui bernama Alvian Alvis Petty. Pria ini tinggal di Jalan Swasembada Barat 17, nomor 25, RT 03 / RW 03, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sang istri, Yola (29) mengaku mendapat kabar langsung dari suaminya yang disandera pada Minggu (27/3) pukul 10.00. "Dia bilang kapalnya lagi dibajak. Katanya dibajaknya di perbatasan Malaysia sama Filipina," ujar Yola kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/3).

Menurutnya, Alvian bercerita bahwa para perompak minta uang tebusan. Namun, tak disebutkan jumlah duit yang diminta perompak. Meski demikian, sebagai seorang istri tentu Yola syok mendengar kabar itu. "Dia minta untuk tidak panik. Tapi, saya kaget, takut (perasaan) campur aduk," kata dia.

Lebih lanjut Yola mengatakan sang suami mengaku bersama sembilan ABK lainnya dalam kondisi aman. "Dia bilang kondisinya masih aman," katanya.

Yola pun berusaha untuk tetap tidak panik, sambil menunggu perkembangan informasi terkait suami dan rekan-rekannya. Ia menghubungi pihak perusahaan, tempat suaminya bekerja. "Saya hubungi perusahaan," ungkap Yola

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Arrmanatha 'Tata' Nasir menegaskan, pihaknya akan memprioritaskan keselamatan sepuluh warga negara Indonesia yang disandera Abu Sayyaf cs. Tata juga membenarkan, kelompok militan yang berbasis di Filipina itu menuntut uang tebusan buat pembebasan sepuluh WNI.

"Para pembajak meminta tebusan dari pemilik kapal. Sejak 26 Maret, pembajak telah menghubungi pemilik dua kali," ucap Tata.

Dari informasi yang diterima kemenlu, sepuluh WNI ini diculik dari dua kapal berbendera Indonesia yang sedang berlayar di perairan Filipina. Dua kapal itu adalah kapal Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12. Keduanya membawa 7.000 ton batu bara. Saat dibajak di wilayah Taw-tawi, Filipina, kedua kapal sedang dalam perjalanan dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan menuju Batangas Filipina Selatan.

Tidak diketahui persis kapan kedua kapal dibajak. namun pemilik perahu menerima panggilan tebusan dari seseorang yang mengaku dari kelompok militan Abu Sayyaf pada hari Sabtu (26/3). "Prioritas kami saat ini adalah keselamatan 10 warga yang disandera," kata Tata.

Sementara itu, kepala militer Filipina, Jenderal Hernando Iriberri sudah terbang ke pangkalan militer utama di selatan Filipina untuk membahas langkah-langkah apa yang harus diambil. AFP melansir, Filipina dikenal tak pernah mau kompromi dengan pemberontak atau kelompok radikal, termasuk membayar tebusan yang diminta Abu Sayyaf cs. Selama ini, pihak asing terkait yang disandera oleh Abu Sayyaf terpaksa membayar untuk pembebasan sandera. (kj/adk/jpnn)
iklan