Indonesia-Korea Mulai Produksi Jet Tempur Semi Siluman

TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia dan Korea Aerospace Industriee (KAI) meneken kontrak cost share agreement (CSA), yang menandai pelaksanaan fase pengembangan program pesawat tempur KF-X/IF-X.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan dalam kontrak tersebut, sharing cost antara Indonesia dan Korea Selatan, 20-80 persen.

"Indonesia 20 persen,  1,8 juta won," kata Ryamizard di kantornya, Kamis, 7 Januari 2016. Dana ini rencananya untuk kegiatan rancang bangun, pembuatan komponen, dan pengembangan prototipe jet tempur bersama bernama KFX/IFX generasi 4.5.




Menurut Ryamizard, pesawat tersebut mempunyai kemampuan di atas pesawat F16 yang merupakan generasi ke-4. Rencananya, pemerintah bersama Korea bersama-sama memproduksi pesawat tempur KFX/IFX mulai 2025 setelah prototipe atau purwarupa pesawat sudah selesai dan lulus tes terbang.

"Kita mulai bikin dari yang sederhana dulu dong tidak langsung yang canggih. Kan harus berpengalaman dulu," ujar Ryamizard. "Negara besar kok beli-beli mulu kan enggak lucu."

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan Indonesia mendapatkan 20 persen dari proses pengembangan itu. Namun untuk transfer knowledge dari pengambangan mendapat 100 persen. Hingga dua tahun pertama, PT Dirgantara Indonesia akan belajar teknologi dan belajar culture development Korea, salah satunya dengan mengirim 200-300 orang ke negara Ginseng itu.

Pesawat ini merupakan generasi 4.5 atau semi siluman, karena misil masih ditempatkan di luar meski memakai desain pesawat siluman. "Kenapa kita ambil semi stealth, ini karena kalau langsung kita stealth, akan banyak negara besar yang akan hambat program ini," kata Budi.

Menteri Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea (DAPA) Chang Myoungjin mengatakan proyek KFX IFx memakan anggaran terbesar dari apa yang pernah Korea lakukan selama ini dalam kerja sama pengembangan pesawat jet tempur. Dia berjanji tak akan menghemat kapasitas sumber daya baik dari lembaga akademisi dan lembaga penelitian untuk mensukseskan proyek ini.

Myoungjin mengatakan penandatanganan kerja sama ini adalah titik awal kerjasama ilmuwan indonesia dan korea. "Saya sebagai penanggung jawab penuh proyek ini. Kepala DAPA sangat optimis kesuksesan proyek ini. Saya harap perhatian penuh seluruh pihak untuk sukseskan ini," kata dia.

ALI HIDAYAT
iklan