106 praktisi kedirgantaraan tukar pikiran di Bali

106 praktisi kedirgantaraan tukar pikiran di Bali - Berita Senjata Buatan Indonesia - Kutai Barat (ANTARA News) - Sebanyak 106 praktisi, akademisi, dan ilmuwan terkait keantariksaan dan kedirgantaraan bertukar pikiran pada forum "International Seminar on Aerospace Science and Technology (ISAST)" ke III yang digelar Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) di Bali.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Kutai Barat, Kalimantan Timur, Rabu, ISAST ke III ini pengembangan dari Seminar Nasional IPTEK Dirgantara (SIPTEKGAN).

Seminar yang menjadi sarana pertukaran informasi berkaitan dengan penelitian dan pengembangan sains dan teknologi dirgantara bagi universitas, institusi, dan industri.

Dalam seminar yang dilaksanakan selama tiga hari sejak 27 Oktober 2015 di Bali tersebut, ia mengatakan membahas tema Pengembangan Teknologi Penerbangan dan Antariksa dalam Mendukung Pemantauan Maritim. 


Topik spesifik pembahasan dalam kegiatan ini mencakup aerodinamika, astrodinamika, propulsi, struktur ringan, propelan, avionik, dinamika terbang, kontrol jelajah, teknologi roket, teknologi satelit, teknologi pesawat terbang, dan sensor terbang dan UAV. 

Menurut dia, ISAST 2015 merupakan momen yang sangat tepat dan strategis karena hasil penelitian dan pengembangan teknologi antariksa Indonesia melalui LAPAN sudah bertaraf internasional.  

Hal ini dibuktikan dengan suksesnya peluncuran Satelit Lapan-A2 karya anak bangsa dengan menggunakan roket India pada 28 September 2015 lalu. Satelit berbobot 78 kilogram ini akan melintasi Indonesia 14 kali sehari setiap 90 menit.

Selain itu, dalam bidang penerbangan LAPAN dan PT Dirgantara Indonesia berkomitmen mewujudkan pesawat transportasi nasional yang sepenuhnya dirancang oleh putra-putri Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan pembuatan pesawat penumpang berkapasitas 19 orang yang bernama N219. 

Pesawat N219 kelak menjadi moda transportasi utama bagi pulau-pulau di Indonesia yang tidak dapat ditempuh oleh jalur darat dan laut ini, menurut dia, siap diperkenalkan kepada publik pada November 2015.

Seminar yang dihadiri antara lain peserta dari Indonesia, Jepang, Inggris, Korea, dan Arab Saudi ini menampilkan lima pembicara tamu yaitu Kepala LAPAN dengan topik Development of Aeronautics and Space Technology to Support Maritime Application, Rektor Udayana dengan topik Udayana University Policies in Support of Aerospace Technology, Prof Tatsuhiko Aizawa dari Shibaura Institute of Technology Jepang dengan topik An Innovation Toward Micro - and Nano - Manufacturing, Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dari Chiba University Jepang dengan topik Potentionality of Aerospace and Aeronautics Smart Technology Development for Maritime Support in Indonesia, dan Prof Changjin Lee dari Konkuk University, Korea.
Editor: B Kunto Wibisono
iklan