Hebat Pesawat Rancangan Habibie R80 Digarap 2016

Berita Teknologi MIliter Indonesia - Liputan6.com, Jakarta - Purwarupa atau bentuk awal pesawat terbang rancangan mantan Presiden BJ Habibie, Regio Prop 80 (R80) ditargetkan mulai dibuat pada pertengahan 2016. Seperti diungkapkan Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie.

"Semoga pertengahan tahun depan sudah tuntas semua (desainnya) sehingga pertengahan tahun depan kami sudah mulai membuat prototipe (purwarupa). Masih lama dari segi desain," ujar putra Habibie itu di Jakarta pada Rabu 30 Juli 2015.

Dia menuturkan, saat ini pihaknya masih dalam tahap pembuatan desain awal R80, yakni pemilihan komponen utama pesawat. Seperti mesin dan sistem pengendalian pesawat.

Miniatur Pesawat R80 (Liputan6.com/Herman Zakharia)


Pesawat R80 sebelumnya ditargetkan mulai terbang pada 2019. Tetapi karena masalah teknis, Ilham memperkirakan pesawat tersebut baru siap diterbangkan pada 2021.
Berapa Harganya?

Untuk saat ini, tutur dia, terdapat 3 perusahaan penerbangan yang memesan pesawat itu dengan total pesanan mencapai 145 unit. Ketiga perusahaan itu, yakni Kalstar Indonesia, Nam Air, dan Trigana Air.

Sementara untuk mesin pesawat, sambung dia, PT RAI akan menggunakan mesin dari satu di antara 3 perusahaan pembuat mesin pesawat yang dipilih. Yakni Rolls Royce asal Inggris, Pratt and Whitney asal Amerika Serikat, serta General Electric asal Amerika Serikat.

Pesawat R80, menurut dia, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pesawat lain. Di antaranya lebih besar dan hemat dalam penggunaan bahan bakar.

"Saya lihat biaya pengoperasian pesawat 30-50 persennya terkait bahan bakar, jadi mesin sangat menentukan. Kemajuan lain pesawat ini bisa juga di aerodinamika, kenyamanan kabin, material lebih maju, tapi yang paling penting lebih hemat 10-15 persen dibanding pesawat ATR," ujar dia.

Ilham mengaku belum menentukan harga untuk R80. Ini karena dia belum menentukan mesin dan komponen-komponen yang akan dipakai. Namun, ia memperkirakan harga pesawat akan dibanderol sebesar US$ 22-25 juta per unitnya.

R80 merupakan suksesor dari pesawat N250 buatan IPTN yang kini disebut PT Dirgantara Indonesia. Sementara PT RAI yang mengembangkan R80 adalah perusahaan pembuat pesawat terbang komersial milik BJ Habibie. (Ant/Ndy/Ans)
iklan