AS Siagakan Opsi Militer Soal Nuklir Iran

TEMPO.CO, Washington - Para diplomat Iran dan enam negara masih berkumpul di sekitar meja konferensi di Wina, Swis hari ini. Para diplomat itu bekerja keras untuk menuntaskan kesepakatan nuklir dengan Iran yang tenggatnya adalah hari ini, 30 Juni 2015.

Namun sejumlah pihak telah menyatakan bahwa pembicaraan tidak akan selesai pada Selasa tengah malam ini. Negosiasi kemungkinan akan berlanjut meski tenggat terlewati, namun banyaknya perbedaan antara dua pihak menimbulkan tanda tanya soal apakah kesepakatan akan bisa tercapai antara Iran dengan AS, Prancis, Inggris, Rusia, Cina, dan Jerman itu.

Meski pejabat Amerika Serikat dan sekutunya menekankan komitmen mereka terhadap proses diplomatik, ada kesadaran tinggi bahwa kegagalan untuk mencapai kesepakatan bisa meningkatkan tekanan untuk aksi militer AS terhadap instalasi nuklir Iran.

AS Siagakan Opsi Militer Soal Nuklir Iran  


Dalam sebuah wawancara pada bulan April 2015 lalu, Menteri Pertahanan AS Ashton Carter mengatakan kepada Erin Burnett dari CNN bahwa saat AS memfokuskan pada perundingan, tapip juga disiapkan opsi militer jika negosiasi nuklir itu gagal.

"Kami memiliki kemampuan untuk menutup, memukul mundur kembali dan menghancurkan program nuklir Iran dan saya percaya Iran tahu dan mengerti itu," kata Carter.

Salah satu kemampuan penting dari opsi militer adalah pada bom kuat penembus tanah yang dikenal sebagai Massive Ordnance Penetrator (MOP) - bom raksasa 15-ton yang dapat meledak 200 kaki di bawah tanah dan dirancang khusus untuk menghancurkan target yang terkubur bumi.

MOP adalah senjata pilihan untuk menghadapi situs-situs yang berada di bawah tanah seperti fasilitas nuklir Iran di Fordow dan Natanz, yang menjadi tempat beberapa reaktor nuklir terbesar negara Republik Islam itu. "Dan bom siap digunakan jika diperlukan," kata Carter.

Meski kesepakatan tercapai hari ini, rencana kontingensi militer dapat bertindak sebagai pencegah lebih lanjut. Iran dianggap memiliki sejarah melakukan pekerjaan nuklir secara rahasia, dan banyak pertanyaan dari masyarakat internasional apakah pemerintahannya dapat dipercaya untuk sepenuhnya memutar kembali dimensi militer dari program nuklirnya.

Keberadaan situs di Fordow, yang terkubur di bawah gunung dekat kota Qom, tersembunyi dari masyarakat internasional sampai tahun 2009. Keengganan Iran untuk memberikan inspektur internasional akses ke situs nuklir itu tetap menjadi titik utama dalam pembicaraan, terutama setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei bulan lalu mengatakan negaranya tidak akan mengizinkan tim inspeksi ke fasilitas militer mereka.

Opsi militer juga bukannya tak memiliki kerentanan. Militer harus menentukan berapa banyak bom yang akan dijatuhkan untuk menjamin kehancuran setiap situs. Selain itu, Iran juga memiliki pertahanan udara pantai yang signifikan, meski dianggap itu akan secara mudah diacak.

Pada sidang di depan kongres AS pekan lalu, Carter mengatakan kepada anggota parlemen bahwa ia memiliki "tanggung jawab untuk memastikan bahwa opsi militer itu nyata." "Ini bukan bagian dari negosiasi," katanya, "tapi itu peran yang sangat, sangat besar, dan kami menganggapnya sangat serius."

Ketua Gabungan Kepala Staf AS Jenderal Martin Dempsey menambahkan bahwa ia berada dalam konsultasi aktif dengan sekutu regional mereka, termasuk Israel. "Jika ada kesepakatan," kata Dempsey, "Saya punya pekerjaan yang harus dilakukan dengan mereka. Jika tidak ada kesepakatan, saya juga punya pekerjaan yang harus dilakukan dengan mereka." Dia menambahkan, "Kami berkomitmen untuk melakukan pekerjaan itu."

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menjadi salah satu pengkritik paling vokal dari negosiasi dengan Iran dan telah bersumpah bahwa Israel akan bertindak sendiri --jika diperlukan-- untuk menghentikan Teheran mendapatkan senjata nuklir.

Tapi, menurut CNN, kemampuan militer Israel lebih terbatas daripada Amerika Serikat soal militer. Jika tanpa keterlibatan AS, mereka harus bergantung pada jet tempur non-siluman F-15, yang itu perlu kembali mengisi bahan bakar dalam perjalanan menuju target mereka di Iran.

Mereka juga tidak memiliki jenis bom yang bisa mencapai kedalaman seperti Massive Ordinance Penetrator, yang itu menyebabkan situs-situs seperti Fordow dan Natanz berada di luar jangkauannya. Israel juga risiko menimbulkan kemarahan masyarakat internasional jika ia bertindak sendirian.

Selain itu, serangan militer dinilai tidak mungkin mengakhiri upaya Iran memiliki nuklir. Presiden Barack Obama dalam wawancara dengan Channel 2 Israel, Mei lalu mengatakan, "Solusi militer tidak akan memperbaikinya, bahkan jika Amerika Serikat juga berpartisipasi ini akan memperlambat sementara program nuklir Iran, tetapi tidak akan menghilangkannya."
iklan