Ini Dia Penembak Ulung Kopassus yang Kaya Medali

Berita Militer - Jakarta - Dalam kejuaraan internasional menembak di Australia yang dimenangi kontingen TNI AD secara telak pada Mei lalu, Letda Safrin Sihombing menjadi salah satu penyumbang medali emas. Anggota Satuan 81 Penanggulangan Teror (Gultor) Kopassus itu menambah panjang daftar medali yang selama ini dia raih.

Dalam Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) yang digelar pada pertengahan Mei lalu, tim dari TNI AD mengoleksi 30 medali emas, 16 medali perak, dan 10 medali perunggu. Sedangkan tuan rumah Australia, hanya mampu mengoleksi 4 medali emas, 7 medali perak, dan 5 medali perunggu. Amerika Serikat harus puas dengan menduduki posisi tiga.

Selain perlombaan kategori beregu, juga diadakan perlombaan kategori perorangan. Untuk kategori perorangan, penghargaan diberikan kepada Letda Inf Safrin Sihombing (Kopassus), Serda Misran (Kostrad), Serda Suwandi (Kostrad), dan Serda Woli Hamsan (Kostrad).

Nama Letda Sihombing sudah tidak asing di dunia lomba tembak internasional. Untuk gelaran AASAM sendiri, itu merupakan medali emas kelimanya.

Sihombing merupakan penembak kategori pistol. Dia memenangkan gelar kategori perseorangan, menggunakan pistol G2 elite buatan Pindad.

"Saya sebelum ini sudah empat kali. Ini yang kelima di AASAM," kata Sihombing dalam perbincangan, Kamis (4/6/2015).


 Mengenal Letda Sihombing, Penembak Ulung Kopassus yang Kaya Medali - 1

Selain itu, Sihombing juga pernah menyabet gelar juara turnamen ASEAN Chief of Army Multilateral Meeting. Di tahun 2010, pria yang kini berusia 42 tahun ini menjuarai kategori Men Pistol Individual Overall pada lomba itu.

Di kancah dalam negeri, Sihombing juga merupakan pemecah rekor rekor nomor 25 meter "center fire pistol" Kejuaraan Menembak Terbuka Jakarta Anniversary XXXI yang digelar pada 2011 lalu. Dia juga tercatat pernah ikut dalam tim menembak olimpiade militer dan juga SEA Games.

"Kalau medalinya mana-mana saja saya tidak hapal. Sampai lupa," kata Sihombing setengah tertawa.

Meski begitu, nama besar Sihombing tidak lantas membuat dirinya memiliki akses khusus untuk dapat langsung tergabung dalam kontingen TNI AD yang berlaga AASAM 2015. Dia harus menjalani seleksi dan pelatihan yang berat.

"Pelatihannya di Cilodong selama 2,5 bulan. Ada latihan fisik dan juga menembak dengan berbagai variasi," kata pria asal Riau ini.

Gemblengan semasa latihan itu berperan besar dalam kemenangan telak kontingen TNI AD. Para penembak berhasil melewati situasi rumit dan sulit terkait kondisi Victoria, Australia, tempat perlombaan itu digelar.

"Memang sangat diperlukan penyesuaian. Di Victoria itu kan dingin. Saya memerlukan hand warmer agar suhu tangan itu bisa sama ketika sedang latihan di Indonesia," kata kata Sihombing.

"Tangan saya ditempel-tempelkan saja di wadah air hangat di wadah steel. Yang penting tangan tidak kaku," sambungnya

Kondisi tangan dan bagian lain sangat menentukan dalam lomba tembak internasional ini. Hal itu disebabkan karena penembak tidak membidik target yang diam. Si penembak sendiri diharuskan untuk bergerak dari pos satu sampai empat. Masing-masing pos memiliki jenis kesulitan yang berbeda.

"Materinya memang aplikasi tempur. Jadi beda dengan menembak untuk fun begitu, bukan. Jarak satu pos ke pos lain sekitar 20 meter. Ada yang targetnya itu (papan) orang. Ada yang target ada yang tidak boleh ditembak sama sekali. Seperti sandera dan teroris. Jadi saya harus cepat menentukan tembakan ke arah mana," ujar Sihombing.
iklan