Kisah Heroik Sutiyoso berhasil tangkap menteri GAM hanya pakai 3 prajurit

Presiden Joko Widodo telah mengusulkan Letjen (Purn) TNI Sutiyoso sebagai calon tunggal Kepala Badan Intelijen Negara (Kabin). Terpilihnya mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut dilakukan karena pengalamannya di bidang intelijen.

Menurut Menteri Sekretaris Negara Pratikno, pengalaman intelijen pria yang akrab disapa Bang Yos ini sudah teruji saat menjalani berbagai misi, mulai dari Kalimantan Barat, Operasi Flamboyan di Timor Timur hingga penangkapan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

"Dari CV, beliau dianggap berpengalaman di bidang intelijen, juga memiliki pendidikan seperti pertempuran dan bidang strategi," kata Pratikno di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (10/6).



Seperti apa kiprah Sutiyoso dalam menangkap petinggi GAM tersebut?

Dalam buku biografi Sutiyoso 'The Field General: Totalitas Prajurit Komando' karya Robin Simanullang terbitan Pustaka Tokoh Indonesia terbitan pertama tahun 2013. Pimpinan teras Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha, cikal bakal Kopassus) menunjuknya sebagai komandan.

Cerita Sutiyoso berhasil tangkap menteri GAM hanya pakai 3 prajurit

Penunjukan ini sangat mendadak, sebab pasukan yang bakal dikirim ke Aceh sebelumnya dibebankan kepada Mayor Yani Mulyadi. Perintah itu diberikan langsung oleh Danjen Kopassandha, bahkan dia mengancam tidak akan memberangkatkan pasukan jika Sutiyoso tak diikutsertakan.

Setibanya di Aceh, Bang Yos segera mempelajari medan tugasnya yang belum dikenalnya. Dia tak segan bertanya kepada perwira-perwira yang lebih dulu di Aceh, termasuk perihal kekuatan GAM dan sosok pemimpinnya, Hasan Dik Tiro.

Operasi dimulai dengan mencari jejak para pemimpin GAM. Hasilnya, Sutiyoso dan pasukannya berhasil mengendus keberadaan juru masak Dik Tiro. Penangkapan pun berlangsung di sebuah rumah di tengah-tengah sawah.

Dari mulutnya, Bang Yos menemukan posisi Dik Tiro, namun nahas saat pasukan tiba, pimpinan teras GAM tersebut berhasil kabur. Meski gagal, tapi Bang Yos tidak menyerah, dia tetap melanjutkan pengintaian.

Lagi-lagi, Bang Yos dan pasukannya berhasil mendapatkan informasi mengenai keberadaan Menteri Keuangan GAM, Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe. Pejabat GAM ini ternyata disembunyikan seorang pengusaha asal Aceh. Sutiyoso lantas menyusun siasat untuk menangkapnya.

Sang pengusaha berhasil dibekuk, tapi Usman ternyata sedang berada di Medan bersama saudaranya. Sembari mengancam, Bang Yos membujuk pengusaha tersebut agar membantunya. Permintaan itu disanggupi dan pengusaha Aceh tersebut berjanji membantu.

Dengan membawa pengusaha, Sutiyoso lantas berangkat menuju Medan bersama tiga anak buahnya. Setibanya di ibu kota Sumatera Utara itu, Bang Yos melaporkan diri dan memberitahukan rencana penangkapan kepada Kodam II/Bukit Barisan. Ternyata, informasi yang diberikan Bang Yos membuat mereka berencana bergerak sendiri, hal itu membuatnya kecewa.

Guna menutupi kekecewaannya, Sutiyoso menyusun sendiri penangkapan tersebut. Dia pura-pura menjadi sopir pribadi sang pengusaha. Bang Yos memintanya untuk meyakinkan sudah memiliki uang untuk membiayai keberangkatan Usman ke PBB, namun uang tersebut disimpan di sebuah hotel.

Usman sendiri diperintahkan Dik Tiro untuk menyampaikan niat mereka untuk melepaskan diri dari Indonesia kepada PBB. GAM ternyata sedang berupaya mencari dukungan internasional.

"Kita akan mengambil sendiri Usman tanpa dukungan pasukan. Tapi skenarionya harus kita buat sedemikian rupa, sehingga si pengusaha dan sekretarisnya percaya ada pasukan yang mengepung di situ, padahal tidak ada," ujar Sutiyoso pada pasukannya.

Setelah membeberkan rencananya, Sutiyoso menyopiri mobil yang dia pinjam dari perusahaan LNG. Sedangkan anak buahnya mengikuti dari belakang. Sebelum pengusaha turun, Bang Yos mewanti-wanti agar menyebutnya sebagai sopir baru asal Makassar dan tidak berkhianat.

Setelah lama menanti, akhirnya sang pengusaha keluar bersama Usman. Meski sempat curiga terhadap dirinya, tapi berkat kegigihan pengusaha tersebut, Usman akhirnya rela masuk ke dalam mobil yang disopiri Sutiyoso.

Tak lama, anak buah Sutiyoso yang sudah menanti di belakang bergerak cepat dan menyergap. Rupanya, penyergapan ini dikira Usman sebagai perampokan. Dari Usman pula, Bang Yos mendapatkan informasi penting, salah satunya mengenai keberadaan Dik Tiro. Merdeka.com
iklan