Anggota Kopassus Menjadi Orang Kepercayaan GAM Ditembaki TNI

Berita Militer - Tanggal 16 April menjadi hari jadinya salah satu pasukan elite Indonesia, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ke-63. Banyak torehan prestasi atas operasi militer yang sukses dilakukan oleh pasukan elite Indonesia tersebut. Beberapa diantaranya adalah pembebasan sandera Tim Lorenz di Mapenduma, ditangkapnya pimpinan Fretelin Xanana Gusmao di Desa Lahane, dan operasi berani pembebasan sandera di Bandara Don Mueang Bangkok.

Namun, dari sekian banyak kesuksesan itu ada salah satu cerita menarik dari kisah Kopassus yang merupakan pasukan elite Indonesia ini. Sebelum GAM (Gerakan Aceh Merdeka) berdamai dan kembali kepangkuan TNI banyak operasi dari pasukan elite Indonesia untuk membrantas gerakan kemerdekaan dari Aceh ini.

Keberhasilan Kopassus masuk kedalam organisasi kemerdekaan Aceh, menjadikan sebuah prestasi yang luar biasa. Bahkan, prajurit Kopassus diberikan kepercayaan khusus sebagai kepercayaan Panglima GAM.

Dia adalah Sersan Badri yang mendapat tugas untuk menyusup ke markas GAM. GAM bukanlah organisasi yang mudah dimasuki oleh orang tak dikenal. Tentunya aksi dari Badri tidaklah mudah untuk medapatkan kepercayaan dari panglima GAM kala itu. Dengan usahanya Dia berhasil masuk ke organisasi GAM dengan melakukan penyamaran sebagai tukang buah. 
Anggota Kopassus Menjadi Orang Kepercayaan GAM Ditembaki TNI
Anggota Kopassus Menjadi Orang Kepercayaan GAM Ditembaki TNI
Badri harus berusaha keras untuk mendapatkan kepercayaan dari GAM dan bukanlah proses yang mudah. Dalam setahun Badri berusaha untuk memetakan kondisi di Aceh kala itu. Terutama didaerah basis GAM yaitu Lhoksumawe, seperti yang tertulis di  buku Kopassus untuk Indonesia. 
Untuk mendapatkan kepercayaan dari Panglima GAM badri bahkan melakukan aksi yang sangat berbahaya, salah satunya adalah  dengan melindungi meloloskan pasukan GAM ke Negeri jiran  Malaysia dan menyembunyikan istri Panglima GAM.

Demi menjalankan tugas penyamaran yang sempurna, nyawa Badri dan temannya yang ikut menyamar menjadi taruhan. Dalam beberapa kali penyergapan oleh TNI, Badri harus mengecoh patroli TNI agar tidak dapat menyergap GAM. Taruhan nyawa ini hanya diketahui oleh unsur pimpinan. "Berulangkali saya ditembaki teman sendiri ketika GAM dikepung oleh prajurit TNI," ungkapnya.



Setalah Hari Raya Idul Fitri tahun 2004, keluar perintah untuk menangkap hidup atau mati 3 tokoh pimpinan GAM, yaitu panglima Muzakir Manaf, Sofyan Dawood dan Said Sanan. Mereka bertiga ada di wilayah Cot Girek dan Badri masih mampu memberikan informasi terakhir kepada TNI. Kemudian Markas GAM yang berada di rawa-rawa Cot Girek diserang oleh Kopassus dari semua arah. Namun, Muzakir Manaf dan Sofyan Dawood telah kabur sebelumnya. Gubernur GAM Said Adnan dan ajudannya seorang desersi TNI tewas akibat tembakan di dada dan perut.
iklan