Sejarah ISIS, Siapa Itu ISIS, Dan Siapa Yang Membawa ISIS Masuk Ke Indonesia


MerahSatu.com - Sejarah ISIS, Siapa Itu ISIS, Dan Siapa Yang Membawa ISIS Masuk Ke Indonesia – Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) yang berasal dari bahasa Araba yaitu al-Dawlah al-Islāmīyah fī al-ʻIrāq wa-al-Shām) yang disingkat dengan nama Negara Islam merupakan suatu negara yang diakui oleh sekelompok militan jihad yang menyebut diri mereka adalah mujahidin yang membela Islam namun mereka tidak diakui oleh beberapa mujahidin di Irak maupun Suriah, bahkan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) menyerang mereka yang tidak mengakui (ISIS) . Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mendapat dukungan oleh berbagai kelompok pemberontak Sunni.

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS)

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) memiliki ideologi yang dikenal begitu keras pada ummat Islam yang tidak mengakui mereka dan melakukan kekerasan brutal dengan menggunakan manusia untuk bom bunuh diri dan seperti yang terjadi di Irak Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) juga menjarah bank. Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) juga melakukan serangan terhadap Muslim Syiah juga Kristen. Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) yang mengaku sebagai mujahidin ini telah melakukan berbagai kejahatan perang dan menewaskan ribuan orang. Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) membunuh tawanan, dan menculik orang. Sedangkan nabi Muhammad tidak pernah membunuh tawanan bahkan nabi melarang untuk merusak tanaman juga menyakiti hewan apalagi manusia.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) telah mengakibatkan lebih dari 2.500 warga Irak yang didominasi oleh warga sipil tewas sepanjang Juni tahun lalu. Tindakan dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengakibatkan tak kurang dari 30.000 dari warga kota kecil di bagian timur Suriah harus meninggalkan rumahnya untuk mengungsi.

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dipimpin oleh seorang yang bernama Abu Bakar al-Baghdadi. Abu Bakar al-Baghdadi selaku pemimpin dari Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mengatakan bahwa mereka (ISIS) ikut bergabung dengan mujahidin yang membela Suriah yaitu Front Al Nusra, Mujahidin Front Al Nusra sendiri merupkan kelompok mujahidin yang menyatakan diri sebagai afiliasi dengan Al-Qaidah di Suriah. Namun ternyata Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) sangat berbeda misi perjuangan nasional Suriah dan mujahidin yang awalnya sejalan dengan mereka. ISIS dengan licik menciptakan perang sektarian di Irak serta Suriah dengan penggunaan aksi-aksi kekerasan dan juga memerangi mujahidin Front Al Nusra dengan menculik dan membunuh pemimpin dan anggota dari Front Al Nusra. Yang kemudian ditanggapi oleh mujahidin Al-Qaidah dengan tidak mengakui kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) sebagai bagian darinya lagi. Abu Bakar al-Baghdadi selaku pemimpin dari grombolan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) bahkan menyatakan bersumpah untuk memimpin mengalahkan Roma, yang seperti anda ketahui bahwa Roma merupakan ibukota agama Nasrani-Katolik, yang menjadi pusatnya yaitu Kota Vatikan yang terletak di tengah kota Roma, Italia. Abu Bakar al-Baghdadi selaku presiden dari Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) juga memerintahkan umat Islam untuk tunduk kepadanya.

Ideologi dan kepercayaan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS)

Ideologi dari Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) merupakan paham garis keras dan menyimpang dari prinsip-prinsip jihad yang ada dalam Islam. Ideologi yang dianut oleh Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mengikuti ekstrim anti-Barat. Ideolog ISIS seperti Ideologi dari kaum Khawarij yang beranggapan bahwa bagi mereka yang tidak setuju dan tidak sependapat dengan tafsiran ISIS dianggap sebagai orang yang telah kafir dan murtad. Dengan demikian siapa saja yang tidak setuju dengan ISIS akan dibunuh.

Sebenarnya Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) didirikan untuk mendirikan negara Islam yang berorientasi di Irak, Suriah dan bagian lain dari Syam. Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) menginginkan untuk kembali ke masa-masa kejayaan Islam diawal Islam itu hadir. Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) Mengutuk negara Islam yang sebelumnya di pimpin oleh kekhalifahan terakhir dan kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman Empire; sekarang Republik Turki) karena dianggap telah menyimpang dari apa yang mereka sebut sebagai Islam murni oleh karena itu ISIS ingin membangun kekhalifahan sendiri.

Sejarah ISIS (Negara Islam Iraq dan Syam)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) telah menyatakan diri sebagai dari bagian Al-Qaidah. ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) yang dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi sebelumnya telah menyatakan diri bergabung dengan kelompok mujahiddin dari Front Al Nusra yang berada dalam organisasi , afiliasi Al-Qaidah di Suriah. Ternyata ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) memiliki tujuan tersendiri untuk bergabung dengan kelompok ini yaitu untuk menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah dan memecah persatuan antara mujahiddin yang telah terbentuk sebelum di Suriah, ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) kemudian tidak diakui oleh Al-Qaidah. ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) mulai melakukan pembunuhan terhadap anggota front Jihad yang berlawanan dengan mereka dengan menculik dan menyerang markas dari mujahidin lain. Untuk menanggapi hal itu Front Al-Nusra balik melakukanl serangan perlawanan terhadap ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) guna merebut dan mempertahankan diri juga merebut kembali yang direbut oleh ISIS sebelumnya.

ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) yang merupakan kelompok militan yang sangat ekstrim ini dianggap lebih berbahaya ketimbang Al-Qaidah yang memiliki ribuan personel pasukan perang, dan siap menyatakan perang terhadap mereka yang dianggap bertentangan dan menoloka berdirinya negara Islam.

ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) menjadi kekuatan militer baru yang muncul dan siap melancarkan serangan terhadap kelompok yang menentang mereka dengan sangat brutal. ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) kini dalam masa yang sangat sulit dimana AS dan sekutunya yaitu negara Timur Tengah ikut dalam kampaye untuk menghancurkan ISIS (Negara Islam Irak dan Syam). Hampir semua orang yang mengenal ISIS kini membencinya karena keberutalan dan kekecamannya dalam melakukan suatu tindakan yang tidak mencerminkan ajaran Islam.

Kekuatan Militer Negara Islam Iraq dan Syam

Kekuatan militer dari ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) tidak bisa dipandang sebelah mata, ISIS memiliki persenjataan yang canggih dan modern. Peralatan tempur ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) telah memakai rudal anti pesawat tempur atau senjanta anti serangan udara yang dimiliki ISIS adalah Stinger ke udara, Untuk serangan jarak jauh yang dilakukan melalui serangan darat ISIS telah menggunakan M198 howitzer, senjata ISIS yang juga telah memiliki adalah DShK yang dipasang pada truk, Senjata canggih lainnya miliki ISIS adalah senjata anti-pesawat yang digunakan ISIS untuk melindungi diri dari serangan udara lawannya, Serta senjta tembak dorong otomatis dan yang sangat mengerikan ISIS telah memiliki setidaknya satu rudal Scud.

Senjata canggih ISIS lainnya mereka dapatkan dari menaklukan kota Mosul pada bulan Juni tahun lalu, ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) telah menyita sejumlah helikopter Blackhawk UH-60 dan juga pesawat kargo yang ditempatkan di sana.Tapi hal itu diragukan oleh Peter Beaumont dari The Guardian, yang menyatakan keliatannya ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) tidak mungkin mampu menggunakan rampasan itu. ISIS (Negara Islam Irak dan Syam) juga menyita bahan nuklir dari Mosul University pada Juli tahun lalu. Duta Irak untuk PBB, Mohamed Ali Alhakim menyampaikan bahwa bahan-bahan nuklir ity telah disimpan di universitas dan dapat digunakan sebagai senjata penghancur massal.

Masuknya Negara Islam Iraq dan Syam Ke Indonesia

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam dan beraliran Sunni (ahli sunnah waljamaah) merupakan salah satu negara yang menentang keberadaan ISIS. Indonesia memasukan ISIS dalam daftar organisasi teroris pada tahun 1 Agustus 2014.

Namun demikian seperti diketahui bahwa ternyata ISIS juga telah berkembang di Indonesia. Perkembangan ISIS di Indonesia memang tidak terlihat seperti perkembangannya di Irak yang begitu pesat. Di Indonesia ISIS mendapat penentangan dari Pemerintah dan juga masyarakat yang tidak sepakat dengan cara ISIS yang sangat ekstrim dan brutal. Oleh karena itu perkembangan ISIS di Indonesia terjadi melalui pengrekrutan yang secara sembunyi-sembunyi. Rohan Gunaratna selakuPengamat terorisme asal Universitas Nanyang, menjelaskan bahwa paham ISIS masuk ke tanah Air Indonesia pertama kali dibawa oleh salah satu anggota Jamaah Islamiyah, Abdullah Sungkar katanya. .

Profesor Rohan Gunaratna yang juga menduduki jabatan sebagai kepala Pusat Penelitian Politik dan Terorisme pun membeikan sarannya, pada dasarnya Negara Indonesia mempunyai segala sumber daya untuk dapat mencegah berkembangnya paham radikalisme ISIS. Menurut sang Profesor, ulama-ulama di Indonesia memiliki peran penting untuk memberikan penyadaran dan sosialisasi terkait bahaya paham radikal ISIS tersebut.

“Mengatasi ISIS tidak hanya lewat perang, tapi juga dengan pendekatan pemahaman,” tutur Rohan.

Masih menurut beliau bahwa pola pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan dua cara yaitu secara kekerasan dan pendekatan yang lunak yang memang harus terus dilakukan untuk dapat mencegah perluasan penyebaran paham radikal ISIS tersebut. Selama ini yang melakukan metode tersebut adalah BNPT secara lunak dan Densus 88 secara lebih keras.
iklan